Dewan Perwakilan Florida Setujui Peta Kongres yang Dimanipulasi

Dewan Perwakilan Rakyat Florida dengan suara bulat menyetujui peta kongres yang dimanipulasi oleh kantor Gubernur Ron DeSantis—kurang dari satu jam setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) melemahkan Undang-Undang Hak Suara (Voting Rights Act). Sidang legislatif yang berlangsung hanya 90 menit itu diselimuti protes keras dari anggota parlemen Demokrat.

Protes Demokrat atas Pelanggaran Konstitusi

Anggota parlemen Demokrat, termasuk calon Senat AS Angie Nixon, menentang keras pengesahan peta tersebut. Nixon bahkan berteriak bahwa peta tersebut "tidak sah" karena dianggap melanggar konstitusi Florida yang melarang redistrik dengan tujuan memihak atau merugikan partai politik atau petahana.

Ketua Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Florida, Fentrice Driskell, menegaskan bahwa peta tersebut dibuat dengan data partisan. "Pembuat peta ini, Jason Poreda, mengaku di bawah sumpah bahwa ia menggunakan data partisan untuk setiap distrik," kata Driskell. "Dan ketika pengacara gubernur ditanya apakah pemilih Demokrat terpinggirkan, jawabannya hanya 'ini pertanyaan normatif'."

Driskell juga menyoroti waktu pengesahan yang sangat singkat. "Jika kita menyetujui RUU ini, kita tidak hanya tertipu—kita justru melegitimasi kekacauan ini. Urutan waktunya sudah bicara. Gubernur mengumumkan niat redistrik tak lama setelah Presiden AS mendesak negara bagian yang dipimpin Republik untuk melakukannya. Tidak ada penjelasan netral untuk urutan ini," tegasnya.

Putusan Mahkamah Agung AS Memicu Kontroversi

Pengesahan peta kongres Florida terjadi hanya satu jam setelah Mahkamah Agung AS menghapus distrik mayoritas kulit hitam di Louisiana, yang dianggap sebagai pukulan terhadap Undang-Undang Hak Suara. Dewan Perwakilan Florida juga menolak usulan Demokrat untuk menunda voting selama dua jam guna mempelajari dampak keputusan tersebut.

Gubernur DeSantis menyambut baik putusan Mahkamah Agung tersebut melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter). "Saya sudah memprediksi ini sejak bulan lalu," tulisnya. "Keputusan ini berdampak pada distrik di Florida—ketidakabsahan hukum yang telah diperbaiki dalam peta baru yang akan segera disahkan."

Dampak Politik dan Ketidakpastian Pilihan Raya

Langkah ini menuai kecaman karena dianggap sebagai upaya memanipulasi sistem pemilu demi keuntungan Partai Republik. Meskipun demikian, peta baru tersebut tidak serta-merta menjamin kursi aman bagi Partai Republik, terutama mengingat popularitas Presiden Trump yang tengah menurun.

Sementara itu, negara bagian yang dipimpin Demokrat seperti California dan Virginia juga tengah mempertimbangkan untuk meredraw distrik kongres mereka. Hal ini menambah ketidakpastian dalam hasil pemilu pertengahan masa jabatan November mendatang, meninggalkan persaingan terbuka di banyak wilayah.

"Jika kita menyetujui RUU ini, kita tidak hanya tertipu—kita justru melegitimasi kekacauan ini."
— Fentrice Driskell, Ketua Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Florida