Desain Paspor Trump untuk Peringatan 250 Tahun AS
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat baru-baru ini merilis desain awal paspor edisi terbatas yang dibuat untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan negara tersebut. Desain ini menampilkan gambar besar wajah Presiden Donald Trump di bagian dalam sampul.
Menurut bocoran yang diterima Fox News, paspor edisi khusus ini memiliki dua halaman interior yang dimodifikasi. Satu halaman menampilkan potret Trump, sementara halaman lainnya menampilkan gambar para pendiri bangsa yang menandatangani Deklarasi Kemerdekaan. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan kepada Fast Company bahwa paspor ini rencananya akan diluncurkan pada Juli dan tersedia bagi warga negara AS yang mengajukan permohonan paspor saat peluncuran, selama stok masih ada.
Kuantitas Terbatas dan Kontroversi
Namun, paspor ini hanya tersedia di Washington Passport Agency di ibu kota Washington, D.C. Menurut laporan The Bulwark, hanya ada 25.000 paspor yang akan dicetak. Departemen Luar Negeri sendiri menyebut klaim tersebut sebagai "berita palsu" dan tidak memberikan konfirmasi resmi mengenai jumlah pasti paspor yang diproduksi.
Dengan ketersediaan yang sangat terbatas, hanya sebagian kecil warga AS yang berkesempatan memilikinya. Hal ini memunculkan pertanyaan: mengapa paspor ini dibuat? Apakah ini hanya strategi pencitraan politik atau upaya untuk menarik perhatian publik?
Perubahan Desain dari Paspor Biasa
Paspor edisi khusus ini memiliki tiga perbedaan utama dibandingkan paspor resmi yang digunakan sejak 2021:
- Halaman belakang: Pada paspor biasa, halaman belakang kosong. Sementara itu, paspor edisi khusus ini memiliki bendera emas timbul dengan 13 bintang melingkar yang melambangkan koloni-koloni awal. Di tengahnya terdapat angka "250".
- Gambar di bagian belakang: Paspor biasa menampilkan gambar pesawat ruang angkasa Voyager, bulan, dan Bumi. Pada edisi khusus, gambar tersebut diganti dengan potongan lukisan Declaration of Independence karya John Trumbull tahun 1818. Selain itu, kutipan dari penulis Afrika-Amerika, Anna Julia Cooper, yang berbunyi "E Pluribus Unum" digantikan dengan tulisan sederhana "United States of America".
- Halaman depan dalam: Paspor biasa menampilkan lukisan Edward Percy Moran yang menggambarkan Francis Scott Key, penggubah lagu kebangsaan "The Star-Spangled Banner". Pada edisi khusus, lukisan tersebut diganti dengan potret resmi kedua Trump—terinspirasi dari muka pingsannya—yang ditampilkan di atas Deklarasi Kemerdekaan, dengan tanda tangan Trump dalam warna emas.
Strategi Pencitraan Politik atau Pancingan Kontroversi?
Selama masa jabatan keduanya, Trump semakin sering menuntut untuk menambahkan namanya dan wajahnya pada berbagai objek dan tempat yang dikenal publik. Langkah ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk memperkuat citra pribadinya sebagai bagian dari pemerintahan federal, meskipun tingkat persetujuan publiknya turun di bawah 40%. Kedua, ini juga bisa menjadi strategi pemasaran yang dirancang untuk memancing reaksi publik dan menarik perhatian media, bahkan jika respons yang muncul adalah kontroversi.
"Paspor ini bukan sekadar dokumen perjalanan, tetapi juga simbol dari upaya pencitraan politik yang disengaja," ujar seorang pengamat politik.
Meskipun kontroversial, desain paspor ini mencerminkan tren yang semakin meningkat di mana tokoh politik menggunakan simbol-simbol negara untuk memperkuat pengaruh pribadi mereka.