Setiap kali melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan, pasien mungkin akan ditanya seputar kebiasaan minum alkohol. Pertanyaan yang diajukan bisa beragam: berapa banyak alkohol yang dikonsumsi setiap minggu?, berapa hari dalam seminggu terakhir Anda minum alkohol?, atau bahkan hanya apakah Anda minum alkohol sama sekali?

Sebagian besar dokter sepakat bahwa menanyakan kebiasaan minum alkohol—dan menilai apakah konsumsi tersebut memengaruhi kesehatan fisik maupun mental—merupakan bagian penting dari pemeriksaan rutin. Terdapat pula alat bantu berbasis bukti yang dapat digunakan untuk membahas penggunaan alkohol, meskipun kunjungan hanya berlangsung 15 menit. Namun, studi menunjukkan bahwa skrining dan konseling mengenai alkohol sering kali dipersingkat atau bahkan diabaikan dalam kunjungan perawatan primer.

Keterbatasan ini memiliki dampak besar, baik bagi pasien maupun sistem kesehatan. Konsumsi alkohol berlebihan—melebihi satu gelas per hari untuk wanita atau dua gelas per hari untuk pria—diketahui dapat menyebabkan atau memperburuk puluhan penyakit serta memperpendek usia harapan hidup. Bahkan konsumsi dalam jumlah sedang pun dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, hipertensi, kerusakan hati, dan kondisi kesehatan lainnya.

Mengapa Dokter Jarang Membahas Alkohol?

Beberapa faktor membuat pembicaraan tentang alkohol menjadi sulit dilakukan dalam praktik dokter. Pertama, kurangnya waktu. Dengan jadwal kunjungan yang padat, dokter sering kali memprioritaskan pemeriksaan fisik dan pengobatan langsung dibandingkan diskusi mendalam tentang kebiasaan gaya hidup.

Kedua, ketidaknyamanan dalam membahas topik sensitif. Alkohol masih dianggap sebagai topik yang pribadi, sehingga banyak dokter ragu untuk menanyakannya secara terbuka. Padahal, sikap profesional seharusnya mendorong pasien untuk jujur tanpa rasa malu.

Ketiga, kurangnya pelatihan khusus. Tidak semua dokter dilatih untuk menangani masalah alkohol dengan efektif. Akibatnya, banyak yang memilih untuk menghindari pembicaraan ini daripada mengambil risiko memberikan nasihat yang tidak tepat.

Dampak Kesehatan dari Konsumsi Alkohol

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, antara lain:

  • Penyakit hati: Sirosis, perlemakan hati, dan hepatitis alkoholik.
  • Penyakit kardiovaskular: Tekanan darah tinggi, stroke, dan gagal jantung.
  • Kanker: Mulut, tenggorokan, kerongkongan, payudara, hati, usus besar, dan rektum.
  • Gangguan mental: Depresi, kecemasan, dan gangguan tidur.
  • Kerusakan otak: Penurunan fungsi kognitif dan demensia.

Selain itu, alkohol juga meningkatkan risiko cedera akibat kecelakaan, kekerasan, dan perilaku berisiko lainnya. Bahkan konsumsi alkohol dalam jumlah sedang pun—hingga satu gelas per hari untuk wanita dan dua gelas per hari untuk pria—dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang.

Apa yang Bisa Dilakukan Pasien dan Dokter?

Untuk mengatasi hambatan ini, beberapa langkah dapat diambil:

  • Meningkatkan kesadaran: Pasien perlu memahami bahwa konsumsi alkohol, meskipun dalam jumlah sedang, memiliki risiko kesehatan. Dokter dapat memberikan informasi yang jelas dan berbasis bukti.
  • Menggunakan alat skrining standar: Dokter dapat memanfaatkan kuesioner seperti CAGE atau AUDIT untuk menilai risiko penggunaan alkohol.
  • Memberikan konseling singkat: Bahkan dalam kunjungan singkat, dokter dapat memberikan nasihat singkat tentang cara mengurangi konsumsi alkohol atau merujuk pasien ke spesialis jika diperlukan.
  • Menciptakan lingkungan yang suportif: Dokter perlu menciptakan suasana yang tidak menghakimi sehingga pasien merasa nyaman untuk berbicara tentang kebiasaan minumnya.

Kesimpulan

Meskipun konsumsi alkohol merupakan topik yang sensitif, pembicaraan terbuka antara dokter dan pasien sangat penting untuk mencegah dampak kesehatan yang serius. Dengan meningkatkan kesadaran, menggunakan alat skrining yang tepat, dan menciptakan lingkungan yang suportif, dokter dapat memainkan peran kunci dalam mengurangi risiko yang terkait dengan alkohol. Bagi pasien, kejujuran dalam menjawab pertanyaan tentang kebiasaan minum dapat menjadi langkah pertama menuju hidup yang lebih sehat.

Sumber: STAT News