Musim Alergi Kian Parah Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah memperburuk gejala alergi musiman dengan menciptakan musim serbuk sari yang lebih panjang dan intens. Hal ini didukung oleh sejumlah penelitian dari para ilmuwan dan dokter. "Kami mengetahui bahwa perubahan iklim menyebabkan peningkatan jumlah serbuk sari di atmosfer," ujar Paul Beggs, ahli kesehatan lingkungan dan profesor di Universitas Macquarie, Sydney, Australia, yang menerbitkan studi pada 2024 mengenai hubungan perubahan iklim dengan asma.

Menurut Beggs, perubahan iklim tidak hanya meningkatkan volume serbuk sari, tetapi juga mengubah musim dan jenis serbuk sari yang terpapar ke manusia. "Musim serbuk sari kini tak lagi terbatas pada musim semi atau gugur. Alergi dapat muncul hampir sepanjang tahun," tambahnya.

Prediksi Musim Alergi di AS Semakin Buruk

Di Amerika Serikat, musim alergi diperkirakan akan semakin parah tahun ini. AccuWeather memprediksi lebih banyak hari dengan tingkat serbuk sari tinggi akibat faktor seperti badai dan fluktuasi suhu. "Data menunjukkan bahwa musim alergi di Amerika kini semakin panjang di kedua sisi," kata Brett Anderson, ahli iklim dan meteorolog senior AccuWeather.

Dr. Rebecca Saff, ahli alergi dan imunologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, juga menyampaikan hal serupa. "Musim dingin yang lebih pendek dan musim semi yang lebih hangat membuat musim alergi dimulai lebih awal dan berakhir lebih lambat," jelasnya.

Studi: Musim Serbuk Sari Diprediksi Berubah Drastis

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2022 memprediksi bahwa pada akhir abad ini, musim serbuk sari akan dimulai 40 hari lebih awal dan berakhir 15 hari lebih lambat dibandingkan saat ini. "Tanggal embun beku yang semakin lambat membuat musim alergi berakhir lebih lama di banyak wilayah," ungkap Anderson.

Ketika suhu hangat dan kelembapan tinggi bersamaan, tanaman seperti pohon, rumput, dan gulma dapat memproduksi serbuk sari lebih sering dan dalam jumlah yang lebih besar.

Tanaman Alergi Berpindah Akibat Suhu yang Meningkat

Suhu yang semakin hangat juga menyebabkan beberapa tanaman berpindah ke wilayah utara, seperti ragweed. Hal ini memperkenalkan alergen baru di daerah yang sebelumnya tidak terpapar, seperti wilayah Timur Laut AS.

"Peningkatan suhu global—11 tahun terakhir tercatat sebagai periode terhangat dalam sejarah menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO)—memicu peristiwa alergi ekstrem yang semakin mengkhawatirkan," lapor BBC.

Dampak pada Kesehatan Masyarakat

Saat ini, sebanyak 30% warga AS berusia di atas 18 tahun menderita alergi musiman, menurut data CDC. Dengan perubahan iklim, gejala seperti mata berair, bersin, dan batuk dapat bertahan lebih lama dan semakin parah.

Para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan dan langkah pencegahan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan risiko tinggi. "Kondisi ini menuntut perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan," pungkas Saff.

"Musim alergi kini tak lagi bisa diprediksi. Perubahan iklim telah mengubah pola alami, dan kita harus siap menghadapi dampaknya," kata Anderson.