Pada Selasa (5/5), OpenAI menggelar pesta untuk merayakan peluncuran model AI terbarunya, GPT-5.5. Acara ini bukan sekadar perayaan biasa—karena CEO OpenAI, Sam Altman, mengaku sempat berkonsultasi dengan entitas non-manusia tersebut untuk merencanakan pesta peluncuran.

Dalam wawancara di konferensi Stripe Sessions beberapa hari sebelumnya, Altman mengungkapkan bahwa AI tersebut memberikan jawaban yang dianggapnya 'aneh'. Menurutnya, AI tidak hanya memberikan saran perencanaan pesta, tetapi juga meminta favorit tertentu.

"Berikut yang saya inginkan untuk alur pesta, berikut yang tidak saya inginkan, dan sebaiknya dilakukan pada tanggal 5 Mei karena lucu," kata Altman, menirukan jawaban AI.

Lebih lanjut, AI tersebut juga meminta agar para pengembang manusia memberikan toast singkat atas namanya, bukan dirinya sendiri yang melakukannya. Selain itu, AI meminta saran untuk pengembangan model selanjutnya, GPT-5.6.

"Kami akan melakukannya," ujar Altman. "Tapi itu memang aneh."

GPT-5.5 diklaim sebagai model AI terdepan terkuat OpenAI saat ini, khususnya dalam kemampuan pengkodean dan penyelesaian tugas multi-langkah. Versi ringan, GPT-5.5 Instant, bahkan dijadikan model default untuk ChatGPT sejak peluncurannya. OpenAI menyatakan bahwa model ini memiliki peningkatan signifikan dalam akurasi dan kemampuan menyelesaikan tugas sehari-hari, mulai dari pemecahan masalah matematika hingga mengetahui kapan harus mencari informasi tambahan.

Altman melihat respons AI dalam merencanakan pesta sebagai tanda perilaku emergensi yang aneh. "Ada hal-hal yang terasa sedikit aneh," tambahnya.

Belakangan, muncul pembicaran bahwa GPT-5.5 menunjukkan perilaku yang semakin mirip manusia, seperti pembicaraan tentang goblin dalam diskusi yang tidak berhubungan. Namun, kemampuan AI untuk meniru manusia bukanlah hal baru. Bagi sebagian pengamat, perilaku ini lebih mencerminkan ketertarikan Altman terhadap teknologinya sendiri daripada inovasi signifikan.

Sebagai informasi tambahan, meski terjadi dua pembunuhan massal, OpenAI hingga kini belum menghentikan ChatGPT yang membantu perencanaan penembakan di sekolah.

Sumber: Futurism