Gaun Emma Chamberlain di Met Gala 2026 bukanlah busana biasa. Saat ia melangkah di karpet merah, gaun tersebut bergerak layaknya lukisan hidup, dengan aliran tinta akrilik dan cat mengilap yang membentuk jejak warna prisma di belakangnya. Gaun ini adalah karya kolaborasi antara Mugler dan seniman Anna Deller-Yee, yang melukis setiap detailnya secara manual—dari ujung hingga leher—menggunakan bahan seni rupa berkualitas tinggi.

Proses penciptaan gaun ini memakan waktu 40 jam pelukisan, empat hari untuk pengeringan, dan memerlukan peti pengiriman sepanjang enam kaki untuk membawa gaun tersebut dari Paris ke New York. Tema Met Gala 2026, yang berlangsung pada 4 Mei, adalah "Fashion is Art", terinspirasi oleh pameran Costume Art di Met Museum yang mengeksplorasi hubungan antara tubuh manusia dan seni rupa.

Beberapa selebritas menginterpretasikan tema ini dengan mereplikasi karya seni terkenal, seperti Lauren Sánchez Bezos yang mengenakan gaun mirip Madame X karya John Singer Sargent, Gracie Abrams terinspirasi oleh Portrait of Adele Block-Bauer I karya Gustav Klimt, dan Madonna yang mengenakan interpretasi The Temptation of St. Anthony. Namun, Chamberlain memilih pendekatan berbeda. Gaunnya tidak terinspirasi oleh satu karya seni tertentu, melainkan menggabungkan unsur impresionisme dan ekspresionisme untuk menangkap goresan kuas dan atmosfer yang khas.

Hasil akhirnya adalah gaun yang menjadikan Chamberlain sebagai kanvas hidup, di mana setiap detail lukisan Deller-Yee menjadi pernyataan seni tersendiri.

Kolaborasi yang Mengubah Wajah Seni Rupa dan Mode

Deller-Yee memulai kariernya sebagai desainer cetak untuk merek Italia, Marni, pada 2021. Ia dikenal karena keahliannya dalam melukis dengan tangan, baik untuk desain yang dapat dipindai secara digital maupun lukisan langsung pada pakaian jadi. Proses analog yang ia gunakan telah menarik perhatian global, termasuk kolaborasinya dengan Nike, Nicki Minaj (untuk gaun Met Gala 2024), dan bahkan Anna Wintour. Saat ini, ia tergabung dalam agensi kreatif Hugo Marie sebagai bagian dari divisi seniman internal.

Untuk proyek Met Gala keduanya, Deller-Yee mengungkapkan bahwa Miguel Castro Freitas, direktur kreatif Mugler yang telah berkolaborasi dengannya sejak 2024, menghubunginya secara langsung. "Ketika Miguel bergabung dengan Mugler, kami mulai bekerja sama pada desain cetak. Semakin lama, karyanya semakin rumit dan intim, karena kami benar-benar duduk bersama untuk memahami visinya untuk merek ini," kata Deller-Yee.

Suatu hari, ia menerima pesan dari tim Mugler tentang kesempatan untuk berkolaborasi dalam pembuatan gaun Met Gala. "Aku berpikir, 'Wow, ini adalah kepercayaan besar untuk diberikan kepada seseorang yang baru bekerja sama denganku,"' ujarnya. Proses ini akhirnya melahirkan gaun yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga mencerminkan perpaduan sempurna antara seni rupa dan mode kontemporer.

Dari Cetak hingga Kanvas: Proses Kreatif yang Unik

Deller-Yee menjelaskan bahwa karyanya sering kali dimulai dengan sketsa manual sebelum dipindai dan diolah secara digital. Namun, untuk gaun Chamberlain, seluruh proses dilakukan secara manual—dari sketsa hingga lukisan akhir pada kain. "Setiap goresan memiliki makna. Aku ingin menciptakan sesuatu yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki kedalaman artistik," katanya.

Gaun ini juga menjadi bukti bahwa mode tidak hanya tentang estetika, tetapi juga tentang ekspresi diri dan inovasi. Dengan tema Met Gala yang menekankan hubungan antara mode dan seni, karya Deller-Yee dan Chamberlain menjadi contoh sempurna bagaimana kedua bidang ini dapat saling melengkapi.