Presiden Donald Trump terbang ke Beijing pada Selasa (21/5) dalam salah satu momen tergelap dalam karier politiknya. Ia meninggalkan Amerika Serikat yang tengah dilanda krisis ekonomi akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi kredibilitasnya, terutama karena inflasi telah menjadi isu sentral dalam kampanye kembalinya ke tampuk kekuasaan.

Survei CNN: 70% Warga Amerika Tidak Puas dengan Penanganan Ekonomi Trump

Sebuah survei terbaru yang dilakukan CNN menemukan bahwa 70% warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani ekonomi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masa jabatan pertamanya, bahkan saat pandemi melanda. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 77% masyarakat, termasuk mayoritas pendukung Partai Republik, percaya bahwa kebijakan Trump telah mendorong kenaikan biaya hidup di komunitas mereka.

Trump: Stabilitas Politik Lebih Penting daripada Kondisi Keuangan Masyarakat

Ketika ditanya apakah perjuangannya untuk kesepakatan dengan Iran dipengaruhi oleh kesulitan keuangan warga Amerika, Trump menjawab tegas: "Sama sekali tidak." Ia menegaskan bahwa satu-satunya prioritasnya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. "Saya tidak memikirkan kondisi keuangan masyarakat saat ini," ujarnya.

Krisis Daya Beli: Inflasi Mencapai 3,8% akibat Perang di Timur Tengah

Data terbaru menunjukkan inflasi melonjak hingga 3,8% pada April 2024. Perang di Timur Tengah telah mendorong harga gas nasional melampaui US$4,50 per galon. Para ekonom mengkhawatirkan guncangan energi ini akan merembet ke sektor lain, menaikkan harga bahan makanan, tiket pesawat, listrik, dan kebutuhan pokok lainnya yang sangat bergantung pada masyarakat Amerika.

Dampak Inflasi terhadap Masyarakat

  • Upah tidak sebanding dengan kenaikan harga: Laporan inflasi terbaru menunjukkan harga-harga naik lebih cepat daripada upah untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Hal ini telah menghapus sebagian besar peningkatan daya beli riil yang pernah dicapai sejak pandemi.
  • Utang konsumen meningkat: Masyarakat semakin bergantung pada kartu kredit dan pinjaman untuk menutupi kenaikan biaya. Pada Maret 2024, utang konsumen mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak akhir 2022. Tingkat tabungan pribadi juga turun ke level terendah sejak 2022, terutama di kalangan rumah tangga berpenghasilan rendah yang terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
  • Kepercayaan masyarakat runtuh: Indeks kepercayaan konsumen telah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. Survei terbaru YouGov/Economist menunjukkan 59% masyarakat percaya ekonomi semakin memburuk, sementara hanya 15% yang optimis. Lebih dari dua pertiga warga Amerika merasa negara ini berada dalam kondisi "tidak terkendali".
  • Dukungan terhadap bisnis kecil merosot: Federasi Bisnis Independen Nasional (NFIB) melaporkan optimisme bisnis kecil terhadap prospek ekonomi dan rencana ekspansi berada pada level terendah sejak sebelum Trump terpilih kembali. Bisnis kecil sering kali menjadi indikator dini ekonomi karena sangat rentan terhadap kenaikan biaya bahan bakar, kredit ketat, dan melemahnya permintaan konsumen.

Trump Tetap Optimistis Meski Pasar Saham Melambat

Meskipun menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, Trump tetap menunjukkan sikap optimistis. Ia yakin inflasi yang meningkat saat ini bersifat sementara dan harga gas akan turun drastis begitu ia mengakhiri perang dengan Iran. Ia juga mengandalkan pasar saham yang relatif stabil sebagai bukti keberhasilan kebijakannya. Namun, para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh booming AI tidak serta-merta mencerminkan kondisi nyata masyarakat.

"Krisis daya beli yang menjadi landasan kembalinya Trump ke kekuasaan kini telah berubah menjadi ancaman lima alarm bagi presidennya. Meskipun pertumbuhan PDB terlihat kuat di atas kertas, dampak inflasi yang tak terkendali telah menggerus kepercayaan masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan," tulis analis ekonomi dalam laporan terbaru.

Sumber: Axios