Serangan Balas Dendam Trump terhadap Lawan Politiknya Semakin Gencar
Administrasi Presiden Donald Trump pada Selasa (14/5) melancarkan serangan terhadap empat target utama koalisi MAGA: David Morens, penasihat senior mantan ahli epidemiologi Anthony Fauci; sejumlah pusat penitipan anak milik komunitas Somalia di Minneapolis; pembawa acara Jimmy Kimmel; serta mantan Direktur FBI James Comey, yang kembali dijerat tuntutan pidana.
Mengapa ini penting? Kampanye balas dendam yang menjadi inti masa jabatan kedua Trump justru semakin intensif di tengah kenaikan harga BBM, perang di Iran yang telah berlangsung lebih dari 60 hari, dan tingkat persetujuan publik yang menyentuh rekor terendah. Mayoritas tindakan keras ini terjadi dalam 26 hari terakhir sejak Todd Blanche, Jaksa Agung sementara, mengambil alih kepemimpinan Departemen Kehakiman menggantikan Pam Bondi.
1. COVID-19: Morens, Penasihat Fauci, Dijerat Tuntutan Pidana
Departemen Kehakiman menuntut David Morens, mantan penasihat senior Fauci di National Institutes of Health (NIH), atas tuduhan menggunakan email pribadi untuk menghindari hukum keterbukaan publik dan menyembunyikan komunikasi terkait asal-usul COVID-19.
Fauci telah lama menjadi musuh utama bagi basis pendukung Trump. Ia dituding bertanggung jawab atas lockdown COVID-19, penutupan sekolah, mandat vaksin, dan tuduhan menutupi asal-usul virus yang diduga berasal dari laboratorium di China. Meskipun teori kebocoran laboratorium masih diperdebatkan di kalangan ilmiah, tuntutan terhadap Morens menjadi kasus pidana pertama terhadap pejabat NIH era Fauci — sebuah capaian yang lama diidamkan oleh kalangan konservatif.
2. Minneapolis: Razia terhadap Pusat Penitipan Anak Milik Komunitas Somalia
Otoritas federal melaksanakan 22 surat perintah pencarian di kawasan Minneapolis, hampir semuanya di pusat penitipan anak milik komunitas Somalia yang diduga melakukan penipuan terhadap program bantuan pemerintah yang dibiayai pajak.
Kasus penipuan di komunitas Somalia di Minnesota telah menjadi obsesi bagi pendukung Trump sejak video viral dari YouTuber Nick Shirley tahun lalu menarik perhatian Gedung Putih. Razia ini menandai kembalinya penegakan hukum federal yang masif ke Minneapolis sejak operasi imigrasi besar-besaran Trump pada awal tahun, yang sempat dikurangi setelah dua warga negara Amerika tewas.
Meskipun Gubernur Minnesota Tim Walz menyebut operasi ini sebagai kerja sama federal-negara bagian, Direktur FBI Kash Patel justru menyerang para pemimpin negara bagian yang berhaluan Demokrat dan mengklaim keberhasilan dalam penindakan ini.
3. Kimmel dan Disney: FCC Mengecam Program DEI dan Kontroversi Kata-Kata
Federal Communications Commission (FCC) memerintahkan Disney untuk mengajukan pembaruan lisensi stasiun ABC miliknya di delapan pasar utama lebih awal, sebagai bagian dari investigasi terhadap program Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) perusahaan tersebut.
Tindakan ini muncul menyusul kemarahan baru terhadap pembawa acara Jimmy Kimmel, yang membuat lelucon kontroversial tentang Ibu Negara Melania Trump. Kimmel menyebut Melania memiliki "cahaya seorang janda yang sedang hamil" dua hari sebelum seorang penembak mencoba membunuh Trump dalam acara White House Correspondents' Dinner.
Baik Presiden Trump maupun Melania telah menyerukan agar ABC memberhentikan Kimmel. Tahun lalu, Kimmel sempat diskors singkat setelah Ketua FCC Brendan Carr mengancam mencabut lisensi afiliasi ABC karena monolognya yang menyerang Charlie Kirk.
4. Comey Kembali Dijerat Tuntutan: Ancaman terhadap Trump atau Politik Balas Dendam?
Departemen Kehakiman kembali menuntut James Comey, mantan Direktur FBI yang diberhentikan Trump pada 2017, atas tuduhan mengancam presiden melalui unggahan media sosial pada 2025. Prosecutor mengklaim unggahan cangkang kerang yang disusun membentuk angka "86 47" merupakan ekspresi serius niat untuk membahayakan Trump.
Comey, yang telah lama menjadi target utama koalisi MAGA, kini menghadapi tuntutan pidana kedua setelah kasus sebelumnya dibatalkan oleh hakim federal tahun lalu.
Analisis: Politik Balas Dendam atau Kebijakan yang Tepat?
"Serangan balas dendam ini bukan sekadar taktik politik, melainkan upaya sistematis untuk menekan lawan-lawan utama Trump dengan menggunakan instrumen hukum federal," ujar pakar hukum dari Universitas Harvard, Jonathan Turley.
Di tengah tekanan publik yang meningkat, langkah-langkah keras ini menunjukkan bahwa strategi Trump untuk mempertahankan kekuasaan semakin agresif. Apakah tindakan ini akan meningkatkan popularitasnya di kalangan basis pendukung, atau justru memperdalam polarisasi politik di Amerika Serikat, masih menjadi pertanyaan besar.