Krisis Kredibilitas akibat Deepfake AI
Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini dimanfaatkan untuk menciptakan video deepfake yang menampilkan dokter tanpa persetujuan mereka. Video tersebut kerap digunakan untuk mempromosikan produk kesehatan yang tidak teruji atau menyebarkan informasi palsu. Para dokter pun mengungkapkan keprihatinan atas maraknya praktik ini, yang dinilai dapat merusak kepercayaan publik terhadap dunia medis.
Dampak Serius bagi Masyarakat dan Profesi Medis
Ketua Eksekutif American Medical Association (AMA), John Whyte, menyebut fenomena ini sebagai krisis kesehatan dan keamanan publik. Ia menekankan bahwa konten AI yang beredar luas di media sosial berpotensi semakin mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi medis. Selain itu, deepfake juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan penipuan asuransi, pencurian data, hingga membahayakan keselamatan pasien.
Dr. Whyte menambahkan, dokter yang menjadi korban deepfake berisiko digugat jika pasien terpengaruh dan menggunakan produk palsu atau mengikuti saran medis palsu. AMA pun mendorong pemerintah untuk segera menutup celah hukum dan memperbarui perlindungan identitas guna menangani masalah ini.
Langkah-langkah Hukum yang Sedang Ditempuh
Beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah mengambil inisiatif untuk mengatasi deepfake dokter. California, misalnya, mewajibkan pengungkapan pada iklan yang dihasilkan AI dan tengah membahas undang-undang yang melarang penggunaan deepfake dokter secara eksplisit. Sementara itu, Pennsylvania baru-baru ini memerintahkan sebuah perusahaan teknologi untuk menghentikan penggunaan chatbot yang menyamar sebagai dokter berlisensi di negara bagian tersebut.
Kisah Korban Deepfake
Dr. Sanjay Gupta, pakar medis CNN, mengungkapkan bahwa video deepfake yang menggunakan wajahnya untuk mempromosikan produk palsu, seperti obat Alzheimer palsu, semakin sulit dibedakan dari aslinya. Bahkan, beberapa orang yang mengenalnya pun tertipu oleh video tersebut. "Kualitas iklan ini sangat mengejutkan," kata Gupta kepada CNN.
Para dokter juga melaporkan penemuan kasus-kasus di mana identitas mereka digunakan untuk mempromosikan suplemen kesehatan, perangkat medis tidak terdaftar, dan layanan kesehatan yang tidak terverifikasi. "Sekarang ini sudah menjadi hal yang lumrah. Hampir semua orang mengenal seseorang yang terkena dampaknya," ujar Dr. Whyte. "Banyak korban yang enggan melaporkan karena merasa malu."
Ancaman terhadap Data Klinis dan Diagnostik
Masalah deepfake tidak hanya terbatas pada manusia. Sistem kesehatan juga menemukan gambar diagnostik palsu dan data klinis yang dimanipulasi. Sebuah studi dalam jurnal Radiology menemukan bahwa sebagian besar dokter gagal mendeteksi gambar X-ray palsu. Sekitar 25% dokter bahkan tidak menyadari keberadaan palsu tersebut meskipun telah diperingatkan untuk mencari ciri-ciri khas, seperti tekstur jaringan lunak yang tidak wajar atau permukaan tulang yang terlalu halus.
Menurut Mickael Tordjman dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai, deepfake semacam ini dapat digunakan untuk melakukan penipuan asuransi, memicu gugatan hukum, hingga membahayakan pasien. "Jika peretas berhasil menyusup ke jaringan rumah sakit dan menyisipkan gambar sintetis, hal ini dapat memanipulasi diagnosis pasien atau menyebabkan kekacauan klinis yang luas," jelasnya.
Seruan untuk Tindakan Segera
AMA mendesak pemerintah untuk memberikan panduan kepada dokter mengenai langkah-langkah yang harus diambil jika menjadi korban deepfake. Selain itu, asuransi malpraktik dan siber juga diharapkan dapat memberikan perlindungan lebih bagi para profesional medis.
Dr. Whyte menekankan pentingnya transparansi dalam penggunaan AI. "Masyarakat tidak seharusnya menjadi detektif untuk menentukan apakah suatu konten adalah deepfake atau bukan," katanya. Ia menegaskan bahwa tanpa regulasi yang ketat, kepercayaan terhadap profesi medis—yang sangat bergantung pada kredibilitas—akan semakin tergerus.
"AI tidak boleh digunakan untuk merusak kepercayaan publik terhadap dunia medis. Tanpa perlindungan yang memadai, dampaknya bisa sangat merugikan," tegas Dr. Whyte.