Analisis CIA: Iran Lebih Tangguh dari Klaim Trump
Sebuah analisis rahasia dari Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) telah meruntuhkan klaim Presiden Donald Trump mengenai ketahanan ekonomi Iran. Laporan yang disampaikan kepada para pembuat kebijakan pada minggu ini menyebutkan bahwa Iran mampu bertahan dari blokade militer AS selama tiga hingga empat bulan sebelum mengalami kesulitan ekonomi yang lebih parah. Laporan tersebut dipublikasikan oleh The Washington Post pada Kamis (12/9).
Menurut tiga pejabat AS yang mengetahui isi laporan tersebut, Iran masih memiliki kemampuan signifikan dalam hal rudal balistik. Meskipun telah mengalami serangan bom dari pasukan AS dan Israel selama berminggu-minggu, Iran masih menyimpan 70 persen persediaan rudal sebelum perang dan 75 persen peluncur mobile. "Iran juga telah berhasil memulihkan fasilitas penyimpanan bawah tanah, memperbaiki rudal yang rusak, serta merakit rudal baru," kata salah satu pejabat.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa Iran mampu bertahan dari blokade AS selama 90 hingga 120 hari ke depan. Hal ini semakin memperkuat keraguan terhadap klaim Trump yang menyebut ekonomi Iran telah runtuh. "Mereka gagal," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Selasa (10/9). "Mata uang mereka tidak berharga, inflasi mereka mungkin mencapai 150 persen—angka sebenarnya 150 persen—mereka tidak membayar tentara, uang mereka tidak berharga."
Trump telah berulang kali menyatakan bahwa ekonomi Iran dalam kondisi kritis. "Saya pikir Iran dalam kondisi sangat buruk. Mereka terlihat sangat putus asa," ujarnya bulan lalu, seminggu setelah blokade pertama kali diterapkan. Gedung Putih sendiri telah mempromosikan kombinasi blokade militer terhadap pelabuhan Iran dan Operasi Fury Ekonomi—serangkaian sanksi terhadap Iran—sebagai upaya untuk melumpuhkan perekonomian negara tersebut.
Namun, seorang pejabat yang mengetahui analisis CIA tersebut menyatakan bahwa kondisi ekonomi Iran "jauh dari seburuk yang diklaim banyak pihak". Menurutnya, Iran telah menyimpan minyaknya di kapal tanker yang seharusnya kosong. Pejabat lain bahkan menyebutkan kemungkinan Iran memperpanjang ketahanan ekonominya dengan menyelundupkan minyak melalui jalur darat. "Ada keyakinan bahwa mereka bisa mulai memindahkan sebagian minyak melalui kereta api melintasi Asia Tengah," kata pejabat tersebut.
Berita ini muncul ketika Trump memutuskan untuk menghentikan sementara Project Freedom, rencana militer AS untuk membantu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz, setelah kehilangan dukungan dari Arab Saudi.
Klaim Trump vs. Realitas Ekonomi Iran
Klaim Trump mengenai ekonomi Iran yang runtuh telah berulang kali disampaikan sejak blokade diberlakukan. Namun, analisis CIA menunjukkan bahwa Iran memiliki berbagai cara untuk mempertahankan ketahanan ekonominya, termasuk melalui penyimpanan minyak di kapal tanker dan potensi penggunaan jalur darat untuk perdagangan minyak.
Meskipun demikian, pemerintah AS tetap meyakini bahwa kombinasi blokade militer dan sanksi ekonomi telah memberikan dampak signifikan terhadap Iran. Namun, analisis CIA ini menunjukkan bahwa dampak tersebut belum separah yang diklaim oleh Trump.
Dampak terhadap Kebijakan Luar Negeri AS
Keputusan Trump untuk menghentikan Project Freedom juga menunjukkan adanya perubahan dalam strategi AS terkait kawasan Timur Tengah. Tanpa dukungan dari Arab Saudi, proyek tersebut kini terhenti, yang dapat memengaruhi stabilitas di Selat Hormuz—jalur perdagangan minyak yang vital.
Analisis CIA ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan blokade dan sanksi terhadap Iran. Meskipun telah berlangsung selama berbulan-bulan, Iran masih mampu mempertahankan sebagian besar kapasitas militernya dan mencari cara untuk mempertahankan perekonomiannya.
"Analisis ini menunjukkan bahwa Iran memiliki ketahanan yang lebih besar dari yang diperkirakan banyak pihak. Meskipun mengalami tekanan ekonomi, negara ini masih memiliki sumber daya untuk bertahan dalam jangka waktu tertentu."