Mengandalkan AI untuk Kode Software: Impian yang Berubah Mimpi Buruk

Bayangkan sebuah perusahaan software yang bisa memangkas biaya pengembangan dengan menggantikan peran programmer menggunakan AI. Dalam teori, ide ini terdengar sangat efisien: mengurangi jumlah karyawan atau memaksa tim yang ada untuk bekerja lebih keras dengan bantuan AI. Namun, kenyataan berbicara lain. Biaya penggunaan AI untuk pembuatan kode kini melonjak drastis, bahkan melebihi ekspektasi.

Seorang karyawan tunggal diketahui menghabiskan lebih dari Rp 2,5 miliar per bulan hanya untuk token AI. Perusahaan AI pun mulai merasakan dampaknya. Server mereka terbebani oleh penggunaan masif alat pengkodean AI, sehingga mereka menaikkan tarif penggunaan. Akibatnya, ekonomi di balik penerapan AI untuk pembuatan kode kini terlihat semakin tidak menguntungkan.

Kenaikan Biaya AI yang Mengejutkan

Salah satu indikator terbaru datang dari Anthropic. Perusahaan AI ini secara diam-diam menaikkan perkiraan biaya penggunaan Claude Code, alat pengkodean AI mereka. Perubahan ini pertama kali ditemukan oleh Ed Zitron, seorang pengamat industri AI.

Sebelumnya, pada 16 April, dokumentasi Claude Code menyebutkan biaya rata-rata per pengembang hanya $6 per hari, dengan 90% pengguna menghabiskan kurang dari $12 per hari. Namun, pembaruan terbaru menyatakan bahwa:

  • Biaya rata-rata per pengembang per hari aktif: $13
  • Biaya rata-rata per pengembang per bulan: $150–$250
  • 90% pengguna masih menghabiskan kurang dari $30 per hari aktif

Perubahan kecil ini menunjukkan tren kenaikan biaya yang signifikan. Ketika ribuan karyawan di sebuah perusahaan menjalankan beberapa agen AI secara bersamaan untuk tugas yang berbeda, biaya yang dikeluarkan bisa melebihi gaji karyawan manusia.

Perusahaan AI Mulai Membatasi Akses

Situasi ini memaksa perusahaan AI untuk melakukan penghematan. Beberapa di antaranya menghentikan uji coba gratis dan membatasi akses ke model pengkodean mereka, bahkan untuk pengguna berbayar. Baru-baru ini, GitHub Copilot milik Microsoft mengumumkan transisi ke sistem pembayaran berbasis penggunaan. Artinya, pengguna harus membayar lebih untuk setiap kode yang dihasilkan AI.

Apakah AI Benar-Benar Meningkatkan Produktivitas?

Selain biaya yang membengkak, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk pengkodean tidak selalu meningkatkan produktivitas. Sebuah studi dari MIT menemukan bahwa sebagian besar perusahaan tidak mengalami peningkatan pendapatan setelah mengadopsi AI. Studi lain bahkan menyebutkan fenomena baru bernama “workslop”, di mana AI justru menciptakan lebih banyak pekerjaan yang harus diperbaiki oleh karyawan manusia di kemudian hari.

"Biaya komputasi AI kini jauh melebihi biaya gaji karyawan," kata Bryan Catanzaro, Wakil Presiden Deep Learning Terapan di Nvidia, kepada Axios.

Dengan berbagai temuan ini, perusahaan kini dihadapkan pada pertanyaan sulit: apakah investasi besar-besaran pada AI untuk pengkodean masih layak, ataukah ini hanya akan menjadi beban biaya yang tidak terduga?

Sumber: Futurism