Jason Collins, mantan pemain basket NBA yang dikenal sebagai atlet terbuka pertama yang mengumumkan diri sebagai gay saat masih aktif bermain, meninggal dunia pada Selasa (13/5) di usia 47 tahun. Ia meninggal di rumahnya akibat glioblastoma stadium 4, jenis kanker otak agresif yang relatif umum namun mematikan.
Acara Inside The NBA memberikan penghormatan kepada Collins dalam tayangan Rabu malam (14/5). Kenny Smith menyampaikan apresiasi atas kontribusi Collins dalam NBA, namun pernyataan paling menyentuh datang dari Charles Barkley. Ia tidak hanya memuji keberanian Collins, tetapi juga menyoroti realitas masyarakat yang masih homofobia.
Barkley menyatakan:
"Kenny, adilnya, jika atlet lain melakukan hal yang sama, itu tetap akan menjadi berita besar karena kita hidup di masyarakat yang homofobia. Sayangnya begitu. Pertama, siapa pun yang berpikir tidak ada banyak atlet gay di semua cabang olahraga, mereka hanya bodoh. Ada begitu banyak permusuhan terhadap komunitas gay, dan itu yang sangat disayangkan. Jika ada yang berpikir tidak ada atlet gay di NFL, MLB, atau NBA — kalian hanya bodoh."
Collins tidak pernah mencatatkan angka spektakuler, namun ia membangun karier 13 tahun di NBA berkat kecerdasan basket dan kemampuan bertahan yang solid. Dipilih sebagai pemain ke-18 dalam Draft NBA 2001, ia bermain untuk enam tim, dengan performa terbaiknya bersama New Jersey Nets. Di sana, ia menjadi bagian dari tim fenomenal yang juga menampilkan Jason Kidd, Vince Carter, dan Richard Jefferson. Meskipun perannya lebih sebagai pemain pendukung, Collins selalu meningkatkan kualitas setiap tim dan ruang ganti yang ia masuki.
Barkley juga membahas homofobia yang ia saksikan dalam komunitas kulit hitam, serta mendorong individu yang bergumul dengan seksualitasnya untuk menerima diri sendiri. "Lakukan apa yang kamu mau. Itu bukan urusan orang lain," tegasnya. "Saya bangga padanya karena telah keluar. Ketika mendengar kabar ini kemarin, rasanya sangat menyedihkan."
Warisan Collins tidak hanya terletak pada prestasi di lapangan, tetapi juga keberaniannya membuka jalan bagi atlet-atlet LGBTQ+ lainnya untuk hidup secara autentik tanpa rasa takut.