Perang Iran Picu Krisis Energi Global

Satu bulan setelah serangan mendadak Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, setidaknya 60 negara telah mengambil langkah-langkah darurat untuk mengatasi krisis energi global yang terjadi. Menurut analisis dari Carbon Brief, hampir 200 kebijakan telah diumumkan untuk menekan konsumsi bahan bakar, mendukung masyarakat yang terdampak, dan meningkatkan pasokan energi dalam negeri.

Blokade Selat Hormuz Memperparah Kondisi

Iran memblokir Selat Hormuz—jalur air strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas cair global—sejak perang dimulai. Langkah ini menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia, menurut Badan Energi Internasional (IEA). Sebagian besar pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah ditujukan ke Asia, sehingga wilayah ini mengalami dampak paling parah.

Serangan balik terjadi di berbagai infrastruktur energi, termasuk serangan Iran ke fasilitas LNG terbesar di Qatar dan pemboman situs gas Iran oleh Israel. Harga bahan bakar melonjak akibat gangguan pasokan ini.

60 Negara Tanggapi dengan Beragam Kebijakan

Carbon Brief, dengan data dari IEA dan sumber lainnya, mencatat 185 kebijakan dari 60 negara dalam sebulan terakhir. Berikut beberapa langkah yang diambil:

  • Pemotongan pajak bahan bakar: Sekitar 30 negara, mulai dari Norwegia hingga Zambia, memangkas pajak bahan bakar untuk meringankan beban masyarakat akibat kenaikan harga.
  • Peningkatan energi terbarukan: Beberapa negara fokus pada pembangunan energi terbarukan untuk jangka panjang.
  • Penggunaan batu bara jangka pendek: Jepang, Italia, dan Korea Selatan memilih untuk meningkatkan penggunaan batu bara guna mengatasi kekurangan pasokan gas.
  • Pembatasan penggunaan bahan bakar: Negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah menerapkan larangan berkendara, sistem pembagian bahan bakar, dan penutupan sekolah untuk mengurangi permintaan.

Krisis Energi Masih Berlanjut Meski Gencatan Senjata Sementara

Meskipun gencatan senjata dua minggu telah diumumkan, krisis energi diperkirakan akan terus berlanjut akibat kerusakan infrastruktur yang parah dan ketidakpastian yang masih ada. Negara-negara di Asia, khususnya, menghadapi tantangan terbesar karena ketergantungan mereka pada pasokan energi dari Timur Tengah.

"Ini merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia. Dampaknya akan terasa dalam jangka panjang, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari wilayah ini."

— Analisis Badan Energi Internasional (IEA)

Langkah Jangka Panjang yang Dipertimbangkan

Pemerintah di berbagai negara tidak hanya fokus pada kebijakan jangka pendek untuk meredam krisis. Banyak yang mulai mempertimbangkan strategi energi jangka panjang, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan investasi pada energi terbarukan. Meskipun demikian, tantangan tetap besar mengingat kerusakan infrastruktur dan ketidakstabilan geopolitik yang masih berlangsung.