Sebuah email internal Gedung Putih yang melarang karyawan berbicara kepada media tanpa izin justru dibocorkan ke media pada Jumat (14/3). Politico melalui rubrik West Wing Playbook mempublikasikan memo yang dikeluarkan pada Maret 2025 tersebut.
Dalam memo itu, Susie Wiles, Asisten Khusus Presiden yang dipilih langsung oleh Donald Trump, menegaskan larangan tegas. Ia menyatakan, “Tidak ada staf di lingkungan Kantor Eksekutif Presiden yang diizinkan untuk berbicara dengan awak media tanpa persetujuan resmi dari Kantor Komunikasi Gedung Putih. Kebocoran tanpa izin tidak akan ditoleransi dan dapat dikenai sanksi, termasuk hingga pemecatan.”
Wiles juga menekankan dampak pelanggaran kebijakan tersebut. Ia menulis, “Pelanggaran terhadap kebijakan ini dapat menyebabkan gangguan signifikan pada operasional, serta berpotensi membahayakan misi dan aktivitas yang bersifat nasional.”
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Wiles untuk meningkatkan disiplin operasional di pemerintahan Trump. Liz Huston, juru bicara Gedung Putih, membenarkan keberadaan memo tersebut kepada Politico. Ia menegaskan bahwa staf tunduk pada “kebijakan nol toleransi terhadap komunikasi dengan media tanpa izin resmi.”
Kebijakan ketat ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintahan Trump dengan media. Pete Hegseth, Menteri Pertahanan, baru-baru ini terlibat konflik dengan pers, mendorong banyak outlet media untuk meninggalkan kursi tetap di Pentagon. Sementara itu, Trump terus menyerang secara langsung terhadap jurnalis dan jaringan media tertentu.
Ketegangan ini semakin memanas setelah Vanity Fair mempublikasikan wawancara dengan Susie Wiles, yang dianggap oleh pemerintahan Trump sebagai framing yang tidak akurat. Namun, para pembawa acara The View di ABC justru melihatnya berbeda. Mereka menilai Wiles sangat berhati-hati dalam menyampaikan pernyataannya.
Perlu diketahui, Wiles sendiri baru-baru ini memberikan wawancara kepada Vanity Fair beberapa bulan lalu. Dalam wawancara tersebut, ia menyebutkan bahwa Trump memiliki kepribadian seperti pecandu alkohol, menyebut perubahan sikap JD Vance sebagai pengikut Trump sebagai motivasi politik, serta menyebut Elon Musk sebagai pengguna ketamine yang terang-terangan.