CHICAGO — Malam sebelum NBA Draft Lottery 2026, Kevin Pritchard, Presiden Operasi Basket Indiana Pacers, tak bisa memejamkan mata. Siapa yang bisa tidur nyenyak dalam situasi seperti itu?
Pada Februari 2026, Pacers melakukan transaksi berani dengan mengirimkan pilihan putaran pertama mereka di draft 2026 ke Los Angeles Clippers sebagai bagian dari kesepakatan untuk mendapatkan Ivica Zubac. Pilihan tersebut dilindungi pada posisi 1-4 dan 10-30, artinya Clippers hanya akan menerimanya jika pilihan tersebut berada di posisi 5-9. Pada Minggu malam, mesin dengan bola pingpong akan menentukan nasib tim-tim tersebut.
Dengan probabilitas 52,1%, bola akan jatuh pada Pacers. Sementara 47,9% lainnya akan menguntungkan Clippers. Secara statistik, ini hampir seperti melempar koin. Namun, bagi Pritchard, ini lebih menyerupai permainan roulette Rusia dengan peluang yang sangat tipis.
Jika kepala muncul, transaksi itu akan terlihat luar biasa bagi Pacers. Mereka mendapatkan Zubac, seorang center yang hampir masuk tim All-NBA pada musim 2024-25. Sebagai gantinya, mereka mengirimkan dua pilihan putaran pertama di masa depan dengan peluang lotere yang lebih rendah, ditambah dua pemain yang tidak lagi menjadi prioritas. Sebuah tambahan sempurna.
Namun, jika ekor yang muncul, segalanya akan terasa jauh lebih buruk. Bayangkan saja, Pacers harus menambahkan prospek top-5 di draft yang kuat ke dalam paket transaksi tersebut, padahal Zubac sendiri sering absen karena cedera. Yang lebih menyakitkan, ini berarti Pacers mengakhiri musim dengan rekor terburuk kedua di NBA tanpa mendapatkan keberuntungan lotere untuk itu.
Perasaan terhadap transaksi ini bisa berubah dalam lima tahun ke depan seiring dengan pertukaran aset yang terus berlanjut. Namun, pilihan putaran pertama Pacers di draft 2026 adalah aset terbaik yang dikirimkan selain Zubac. Siapa yang akhirnya menggunakan pilihan tersebut bergantung pada hasil lotere.
"Sebenarnya, saya tidak bisa tidur semalaman. Saya dan Chad (Buchanan, GM Pacers) pergi untuk berjalan-jalan dan mencoba mempersiapkan segalanya, baik untuk skenario terbaik maupun terburuk," ujar Pritchard.
Saat hasil lotere diumumkan, Pritchard mengaku jantungnya berdebar keras seperti saat Game 7 Final NBA. Ia mengakui dirinya bukanlah pemain poker yang baik pada hari itu — keadaan emosionalnya terlihat jelas bahkan oleh penonton yang berjarak 30 kaki. Ketika logo Clippers terpampang di layar di hadapan ratusan orang, hanya satu dari tiga perwakilan Pacers yang terlihat mampu menyembunyikan emosinya.