Seorang pria bersenjata berat bernama Cole Thomas Allen ditangkap karena diduga merencanakan pembunuhan terhadap mantan Presiden Donald Trump selama acara White House Correspondents' Dinner pada Sabtu malam (27/4). Insiden ini memicu perdebatan mengenai tanggung jawab retorika politik yang dianggap memicu kekerasan.

Segera setelah kejadian, Trump dan para pendukungnya menuding retorika keras dari pihak Demokrat sebagai penyebab utama upaya pembunuhan tersebut. Salah satu tokoh yang paling vokal dalam tuduhan ini adalah Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Trump, yang menuding bahwa retorika Demokrat telah 'mendemonisasi' Trump dan pendukungnya.

Leavitt menyatakan dalam pernyataannya,

"Tidak ada tokoh politik dalam beberapa tahun terakhir yang lebih sering menjadi sasaran tembakan dan kekerasan daripada Presiden Trump. Kekerasan politik ini berasal dari demonisasi sistemik terhadapnya dan para pendukungnya oleh komentator, bahkan oleh anggota Partai Demokrat dan sebagian media."

Namun, para pengamat media menyoroti perbedaan mencolok antara retorika keras yang digunakan kedua belah pihak. Menurut Matt Gertz, peneliti senior di Media Matters, hanya satu kubu yang secara fundamental menentang demokrasi liberal dan kebebasan pers—yakni kubu yang dipimpin oleh Trump.

Gertz menjelaskan dalam wawancara dengan The New Republic,

"Biasanya, presiden Amerika Serikat diundang untuk menghadiri acara ini. Mereka hadir, dan presiden biasanya menyampaikan pidato ringan serta menekankan pentingnya kebebasan pers dan Amendemen Pertama. Namun, ketika Donald Trump menjadi presiden, semuanya berbeda. Ia tidak percaya pada kebebasan pers dan tidak dapat dengan tulus menyuarakan nilai-nilai Amendemen Pertama."

Gertz juga menekankan bahwa mengundang Trump ke acara yang seharusnya merayakan kebebasan pers justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam acara tersebut. Ia menambahkan,

"Ide untuk mengundangnya seharusnya dianggap sebagai hal yang tidak pantas, tetapi sayangnya, hal itu tetap terjadi."

Sementara itu, Demokrat dituntut untuk lebih tegas dalam menyuarakan ancaman nyata terhadap demokrasi liberal. Para ahli media menekankan bahwa media perlu lebih jeli dalam membedakan antara retorika politik biasa dengan ancaman yang dapat membahayakan stabilitas demokrasi.