Ketegangan seputar penyelesaian pelanggaran hak cipta senilai $1,5 miliar oleh perusahaan AI Anthropic terus meningkat. Para penulis dan anggota kelompok penggugat menentang kesepakatan tersebut, yang diklaim sebagai penyelesaian hak cipta terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Alasannya, mereka mempertanyakan kompensasi pengacara yang dianggap terlalu besar serta pembayaran yang minim kepada para anggota kelompok.
Pada Kamis (12/9), Hakim Distrik AS Araceli Martinez-Olguin menunda persetujuan akhir terhadap penyelesaian tersebut. Alih-alih langsung menyetujui, hakim meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai alasan di balik keberatan yang diajukan oleh sebagian anggota kelompok. Ia juga meminta para penulis untuk menanggapi kekhawatiran utama yang disampaikan oleh pihak yang keberatan.
Beberapa pihak yang keberatan berargumen bahwa pembayaran kepada anggota kelompok hanya merupakan "sedikit uang" dibandingkan dengan nilai total penyelesaian. Selain itu, mereka juga menyoroti potensi ketidakadilan dalam proses pengajuan keberatan, dengan tuduhan bahwa tim hukum para penulis berusaha membatasi suara pihak yang tidak setuju.
Ars Technica telah meninjau berbagai surat keberatan yang diajukan terhadap penyelesaian ini. Dalam surat-surat tersebut, para pengunjuk rasa menyatakan bahwa tim hukum para penulis berupaya untuk menutup suara mereka dan mencegah partisipasi yang adil dalam proses hukum.
Keputusan hakim untuk menunda persetujuan ini menandai babak baru dalam sengketa hukum yang melibatkan Anthropic. Perusahaan AI ini diduga menggunakan ribuan buku tanpa izin untuk melatih model AI-nya. Penyelesaian senilai $1,5 miliar awalnya diharapkan dapat menutup kasus tersebut, namun kini prosesnya menjadi lebih kompleks akibat keberatan yang terus bermunculan.