Persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok untuk memimpin dalam kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. Namun, di balik upaya masing-masing negara untuk mencapai supremasi AI, ancaman terhadap keamanan siber global justru mengemuka.

Mengapa Ini Penting?

Baik AS maupun Tiongkok memiliki kepentingan untuk mencegah lawan mereka memanfaatkan AI sebagai senjata atau membiarkan sistem AI liar beredar. Namun, apakah kedua negara dapat membangun dialog produktif mengenai norma keamanan AI atau saling percaya untuk mematuhi aturan tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

Pertemuan Trump-Xi: Langkah Awal atau Sekadar Simbol?

Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan membahas pembatasan AI dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan ke Beijing pekan ini. Para pejabat AS mengungkapkan rencana tersebut kepada wartawan pada Minggu (12/5).

"Kami ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membuka percakapan dan melihat apakah kami perlu membangun saluran komunikasi mengenai isu AI," kata seorang pejabat AS.

Meskipun demikian, sejarah menunjukkan bahwa Tiongkok cenderung menggunakan pertemuan semacam ini untuk mengumpulkan informasi daripada serius membahas pembatasan AI. Hal ini ditegaskan oleh Melanie Hart, Direktur Senior Atlantic Council's Global China Hub dan mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS.

Menurut Hart, dalam pertemuan AI safety di bawah pemerintahan Biden sebelumnya, perwakilan Tiongkok yang hadir lebih banyak berasal dari Kementerian Luar Negeri dan kurang memiliki keahlian teknis di bidang AI.

Ketidakpercayaan dan Persaingan yang Kian Memanas

AS menggunakan kontrol ekspor untuk memperlambat kemajuan AI Tiongkok. Namun, para pejabat AS semakin menyadari bahwa kedua negara mungkin tetap memerlukan aturan bersama mengenai penggunaan teknologi ini.

Model AI Tiongkok seperti DeepSeek menjadi pesaing utama model AI AS. Sistem AI canggih kini dianggap di Washington dan Beijing sebagai mesin ekonomi, alat intelijen, dan senjata siber potensial. Hal ini membuat kerja sama semakin sulit, tetapi juga semakin mendesak.

Eksekutif AI yang Tidak Ikut Serta

Enam belas eksekutif bisnis, termasuk Elon Musk dan Tim Cook, dikabarkan akan menemani Trump dalam kunjungan ini. Namun, tidak ada CEO dari perusahaan AI terkemuka yang terdaftar dalam rombongan tersebut.

Ancaman Siber yang Semakin Nyata

Ketegangan ini terjadi ketika perusahaan AI AS tengah berjuang untuk merilis model AI yang semakin kuat, yang dikhawatirkan dapat dimanfaatkan untuk menemukan dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak. Gedung Putih sendiri tengah terlibat perdebatan selama sebulan mengenai regulasi peluncuran model AI tersebut, setelah selama lebih dari setahun menentang regulasi semacam itu.

Sementara itu, Gedung Putih baru-baru ini menuduh Tiongkok menjalankan kampanye berskala industri untuk menyalin dan mencuri model AI AS. Pada November lalu, Anthropic menuduh Beijing menggunakan model AI Claude untuk mengotomatisasi bagian dari kampanye mata-mata global yang menargetkan sekitar 30 organisasi internasional. Sementara itu, National Security Agency (NSA) AS diketahui tengah menguji model AI Mythos untuk keperluan intelijen.

Apa yang Harus Diwaspadai?

Hart menekankan bahwa kunjungan ini tidak akan serta-merta mengubah kebijakan AI AS dalam semalam. Sebaliknya, kunjungan ini lebih berfungsi untuk menentukan apakah diskusi masa depan mengenai keamanan AI antara AS dan Tiongkok akan bersifat substansial atau hanya simbolis belaka.

"Dari sini, kita perlu melihat siapa yang benar-benar hadir dan serius dalam membahas norma-norma AI," kata Hart.
Sumber: Axios