Kesenjangan dalam cakupan vaksin campak masih terjadi di kalangan pasien ruang gawat darurat (IGD) di Amerika Serikat, menurut studi terbaru. Campak merupakan salah satu penyakit menular paling mudah menyebar, ditularkan melalui batuk dan bersin. Bahkan penurunan kecil dalam cakupan vaksinasi dapat memicu wabah.

California mencatat kasus campak tertinggi dalam tujuh tahun terakhir pada 2026. Menyikapi hal ini, para peneliti mulai meneliti kesenjangan dalam pengetahuan dan penerimaan vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR) di kalangan pasien IGD.

Studi yang dipimpin oleh Universitas California, Riverside, menemukan kesenjangan kritis dalam pengetahuan, status vaksinasi, dan penerimaan vaksin MMR di antara pasien IGD di AS. Hasil studi ini dipublikasikan di American Journal of Emergency Medicine dan menyoroti bagaimana misinformasi serta hambatan akses berkontribusi terhadap penurunan tingkat vaksinasi di tengah merebaknya wabah campak.

"Kami menemukan sebagian besar pasien IGD tidak memiliki pengetahuan akurat tentang campak dan vaksin MMR. Banyak yang tidak yakin dengan status vaksinasi mereka atau bahkan tidak pernah menerima vaksin tersebut. Selain itu, keraguan terhadap vaksin akibat kesalahpahaman tentang keamanan dan kebutuhannya tetap menjadi isu yang persisten," ujar Alexandra Eftimie, mahasiswa kedokteran sekaligus salah satu penulis utama studi ini.

Studi ini menggunakan data survei dari 2.459 pasien dewasa di sepuluh IGD AS yang dikumpulkan antara April hingga Desember 2024. Penelitian ini mengevaluasi status vaksinasi MMR, pengetahuan, dan kesediaan pasien untuk menerima vaksin.

"Kami mengidentifikasi disparitas signifikan dalam status vaksinasi yang terkait dengan faktor-faktor seperti ras, bahasa, status asuransi, dan akses terhadap layanan primer. Disparitas ini menekankan bagaimana hambatan sistemik membentuk akses terhadap vaksin dan literasi kesehatan di berbagai populasi," jelas Sahithi Malireddy, mahasiswa neurosains dan salah satu penulis utama studi.

Para peneliti menekankan bahwa temuan ini menunjukkan peran penting IGD sebagai titik layanan kesehatan yang aman bagi masyarakat yang sulit mengakses vaksin atau layanan kesehatan secara tradisional.

"Temuan ini memberikan kesempatan bagi sistem layanan kesehatan untuk memanfaatkan IGD tidak hanya sebagai tempat penanganan darurat, tetapi juga sebagai ruang untuk memberikan intervensi kesehatan masyarakat yang mudah diakses serta meningkatkan kesetaraan vaksinasi," kata Malireddy.

Para peneliti juga terkejut dengan minimnya akses pasien terhadap informasi yang jelas dan dapat diandalkan.

"Banyak kesenjangan berasal dari hambatan sistemik seperti keterbatasan alat literasi, perbedaan bahasa, masalah asuransi, dan stigma. Hal ini menunjukkan bagaimana budaya dan akses memengaruhi respons terhadap gejala, mengalihkan fokus dari ketidaktahuan individu ke ketidaksetaraan struktural—dan menekankan tanggung jawab kita untuk membuat pengetahuan kesehatan lebih mudah diakses dan dapat ditindaklanjuti bagi masyarakat yang terpinggirkan," tambahnya.

Robert Rodriguez, profesor kedokteran di Sekolah Kedokteran UCR dan penulis senior studi, menguraikan langkah-langkah praktis yang dapat diambil IGD untuk meningkatkan cakupan vaksin MMR.

"Meskipun sebagian besar IGD tidak dapat memberikan vaksin MMR secara langsung, mereka dapat berperan sebagai tempat yang berdampak tinggi untuk skrining dan edukasi—terutama bagi masyarakat yang kurang terlayani. IGD dapat memberikan informasi penting tentang pentingnya vaksin MMR dan mengarahkan pasien ke layanan yang mudah diakses," ujarnya.