Gerakan Pro-Demokrasi Beralih Strategi untuk May Day 2024

Setelah unjuk rasa No Kings bulan lalu, Indivisible—kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai gerakan pro-demokrasi berbasis massa—bergabung dalam aksi May Day Strong. Mereka mengambil inspirasi dari pemogokan satu hari di Minnesota pada Januari lalu. Secara sekilas, partisipasi Indivisible tampak sebagai perubahan kecil menuju aksi yang lebih terfokus pada serikat pekerja. Namun, bagi Ezra Levin, salah satu pendiri dan direktur eksekutif Indivisible, kolaborasi ini adalah bagian dari strategi jangka panjang.

Membangun Koalisi yang Lebih Luas untuk Demokrasi

Levin menekankan bahwa demokrasi tidak dapat berfungsi tanpa keterlibatan pekerja. Ia juga menyoroti pentingnya melibatkan lebih banyak warga biasa, bukan hanya miliarder atau korporasi besar, dalam proses politik. "Masyarakat tidak dapat berfungsi tanpa pekerja, dan sistem politik tidak akan berfungsi kecuali lebih banyak orang non-miliarder dan non-korporasi raksasa terlibat dalam politik," ujarnya dalam wawancara telepon pada Kamis lalu.

Menghadapi tantangan besar, seperti keputusan Mahkamah Agung yang melemahkan hak suara dan kebijakan luar negeri yang semakin memanas, Levin tetap optimistis. Ia percaya bahwa kesuksesan gerakan pro-demokrasi tidak dapat diukur dari kerusakan yang dilakukan oleh otoriter, melainkan dari pertumbuhan gerakan itu sendiri dan kemampuannya mencoba taktik baru. Kolaborasi dengan May Day Strong menjadi contoh strategi tersebut.

Indivisible: Sebagian dari Solusi, Bukan Satu-Satunya

Levin juga menyadari keterbatasan Indivisible. "Indivisible bukanlah organisasi yang tepat untuk mengorganisir seluruh negeri. Kami hanyalah sebagian dari solusi," katanya. Fokus utama saat ini adalah membangun koalisi yang lebih luas, termasuk melibatkan orang-orang yang bukan aktivis atau penggerak gerakan.

Kolaborasi dengan Serikat Pekerja Kunci Sukses

Levin menekankan bahwa gerakan pro-demokrasi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan serikat pekerja. "Anda tidak dapat membangun gerakan pro-demokrasi yang sukses tanpa keterlibatan kuat dari pemimpin serikat pekerja," ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya menyambut anggota baru dalam koalisi dan mendukung mereka saat mereka memimpin aksi, seperti yang akan terjadi pada May Day nanti.

Mengukur Dampak di Tengah Tantangan Politik

Menghadapi minggu yang penuh tantangan, termasuk keputusan Mahkamah Agung yang melemahkan hak suara dan kebijakan luar negeri yang semakin memanas, Levin tetap fokus pada pertumbuhan gerakan. Ia percaya bahwa kesuksesan tidak dapat diukur dari kerusakan yang dilakukan oleh otoriter, melainkan dari kemampuan gerakan untuk tumbuh dan beradaptasi.

"Tidak ada satu organisasi atau individu yang dapat secara signifikan mengubah sistem politik sendirian. Anda perlu membangun koalisi yang kuat."

Contoh Kolaborasi: Koalisi Hands Off dan Good Trouble

Levin menyebut beberapa contoh kolaborasi yang telah dilakukan Indivisible, seperti koalisi Hands Off yang diluncurkan setahun lalu, aksi Good Trouble Lives On pada peringatan Hari John Lewis, dan koalisi No Kings yang terdiri dari ratusan anggota. Meskipun May Day tidak dipimpin oleh Indivisible atau koalisi No Kings, keterlibatan mereka dalam aksi ini menunjukkan komitmen untuk bekerja sama dengan berbagai pihak.

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan

Menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, Levin tetap optimistis. Ia percaya bahwa gerakan pro-demokrasi dapat tumbuh dan berkembang dengan melibatkan lebih banyak orang dan mencoba taktik baru. Meskipun tantangan besar masih ada, kolaborasi seperti May Day Strong menjadi langkah penting untuk membangun demokrasi yang lebih inklusif dan representatif.