Lebih dari dua abad yang lalu, Johnny Appleseed telah menunjukkan betapa pentingnya pepohonan dalam menciptakan keteduhan di hari-hari panas. Meskipun tujuan utamanya adalah memproduksi sari apel, bukan memberi makan masyarakat, konsepnya tentang pepohonan sebagai solusi pendinginan alami tetap relevan hingga kini. Sayangnya, banyak kota di Amerika Serikat belum mengikuti jejaknya dengan serius.

Dua studi terbaru mengungkapkan bahwa menanam lebih banyak pohon dapat memberikan dampak signifikan dalam mengatasi efek pulau panas perkotaan, yaitu fenomena di mana suhu di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Studi pertama menemukan bahwa pepohonan dapat mengurangi separuh efek pulau panas tersebut. Sementara studi kedua membandingkan 65 kota di AS dan menunjukkan bahwa kawasan dengan sedikit pepohonan mengalami hingga 40% lebih banyak panas berlebih dibandingkan kawasan yang hijau.

Pepohonan sebagai Infrastruktur Hidup

Robert McDonald, ilmuwan utama Nature Conservancy sekaligus pemimpin studi pertama, menekankan bahwa panas perkotaan telah menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius. "Panas membunuh sekitar 350.000 orang setiap tahun berdasarkan perkiraan tertentu, dan dampaknya lebih parah di kota-kota," ujarnya. "Jika tidak ada pepohonan, efek pulau panas perkotaan akan menjadi dua kali lipat lebih buruk dari kondisi saat ini."

Pepohonan berperan ganda dalam mendinginkan kota. Pertama, melalui proses transpirasi atau "berkeringat", di mana tanaman melepaskan uap air dari daunnya. Kedua, pepohonan memberikan keteduhan yang menghalangi sinar matahari langsung mengenai permukaan keras seperti beton dan aspal. Sebaliknya, material tersebut menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya secara perlahan di malam hari, sehingga suhu udara tetap tinggi dan tidak memberikan kesejukan yang dibutuhkan, terutama bagi warga yang tidak memiliki pendingin ruangan.

Kesenjangan Infrastruktur Hijau di Perkotaan

Kondisi ini sangat berisiko bagi kelompok rentan seperti lansia. Selain itu, kawasan berpenghasilan rendah cenderung memiliki lebih sedikit pepohonan dibandingkan kawasan kaya. Di daerah industri, misalnya, hamparan beton yang luas menyerap dan memancarkan panas secara intensif. Sementara itu, di pusat kota, kebijakan pembangunan perumahan padat sering kali mengabaikan penanaman pohon yang memadai. Bandingkan dengan kawasan pinggiran yang memiliki banyak taman, pepohonan di tepi jalan, dan halaman rumput yang membantu menurunkan suhu.

Perbedaan keberadaan pepohonan antar kawasan ini juga tercermin dalam perbedaan suhu yang mencolok. Studi kedua menghitung "dividen pendinginan", yaitu selisih rata-rata efek pulau panas di kawasan dengan tutupan pepohonan rendah dan tinggi. Hasilnya menunjukkan perbedaan hingga hampir 4 derajat Fahrenheit. Bagi penduduk yang tinggal di kawasan hijau, mereka mungkin mengalami 20 hingga 40% lebih sedikit panas berlebih. Laporan tersebut menemukan bahwa perbedaan ini terjadi secara teratur di seluruh AS.

"Mungkin yang mengejutkan adalah betapa besar dampak yang dihasilkan oleh pepohonan sederhana ini. Infrastruktur hijau bukan hanya soal estetika, tetapi juga solusi nyata untuk masalah kesehatan dan lingkungan," ujar salah satu peneliti.

Dengan demikian, solusi untuk mengatasi panas perkotaan ternyata lebih sederhana daripada yang dibayangkan. Menanam lebih banyak pohon tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih sejuk, tetapi juga meningkatkan kualitas udara, mendukung keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kesejahteraan mental warga. Langkah ini menjadi investasi jangka panjang yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim dan menciptakan kota yang lebih layak huni.

Sumber: Grist