Data Center: Infrastruktur Penting yang Menghadapi Penolakan

Seiring dengan lonjakan penggunaan kecerdasan buatan (AI), perusahaan teknologi berlomba-lomba membangun data center sebagai infrastruktur untuk menjalankan dan melatih model AI. Di Amerika Serikat saja, terdapat sekitar 4.000 data center, dan diperkirakan 3.000 lagi akan segera beroperasi. Namun, ada satu masalah besar: masyarakat tidak menginginkan data center dibangun di dekat tempat tinggal mereka.

Alasan Penolakan Masyarakat terhadap Data Center

Penolakan ini didorong oleh beberapa faktor utama:

  • Konsumsi energi dan air yang tinggi: Data center membutuhkan daya listrik dalam jumlah besar untuk menjaga server tetap beroperasi, serta air untuk pendinginan.
  • Dampak lingkungan: Emisi karbon dan penggunaan sumber daya alam yang besar menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan.
  • Desain yang tidak menarik: Sebagian besar data center memiliki tampilan yang monoton, seperti bangunan beton tanpa jendela yang membentang di ratusan hektar tanah.

Ide Kreatif untuk Mengubah Desain Data Center

Menghadapi penolakan masyarakat, muncul berbagai ide kreatif untuk membuat data center lebih menarik secara visual. Beberapa pengguna media sosial bahkan menggunakan AI untuk menghasilkan gambaran data center yang dirancang menyerupai tempat-tempat fantastis:

"Jika data center terlihat seperti ini, ketakutan masyarakat terhadap kehadirannya bisa berkurang separuhnya."

— Lulu Cheng Meservey, investor ventura, dalam unggahan di X (Twitter), Mei 2026

Beberapa ide yang beredar antara lain:

  • Data center mirip Shire (dari film Lord of the Rings): Didesain menyerupai rumah-rumah hobbit yang tersembunyi di bukit.
  • Data center bergaya kastil abad pertengahan: Dengan dinding batu dan menara yang megah.
  • Data center ala Parthenon: Menampilkan arsitektur klasik Yunani.
  • Data center dengan atap bergelombang: Didesain untuk menyatu dengan lingkungan sekitar, seperti yang diusulkan oleh desainer Joshua Puckett.

Contoh Desain yang Menyatu dengan Lingkungan

Joshua Puckett, seorang desainer, mengusulkan konsep data center yang terinspirasi oleh lingkungan setempat. Ia membagikan gambaran konseptual untuk tiga kota berbeda:

  • Sydney: Dengan atap bergelombang yang menyerupai bentang alam.
  • Denver: Mengadaptasi bentuk pegunungan di sekitarnya.
  • Columbia Basin, Washington: Didesain untuk menyatu dengan lanskap gurun.

"Peluang di sini bukanlah untuk menciptakan desain futuristik atau klasik, melainkan untuk membentuk bangunan yang menyatu dengan lingkungan, bukan menentangnya."

— Joshua Puckett, desainer

Apakah Desain yang Lebih Menarik Dapat Menerima Masyarakat?

Meskipun ide-ide ini masih bersifat konseptual dan sebagian besar hanya lelucon di media sosial, diskusi tentang estetika data center membuka peluang untuk perubahan. Desain yang lebih menarik secara visual dapat membantu mengurangi penolakan masyarakat, terutama jika dikombinasikan dengan upaya untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi energi.

Namun, tantangannya tetap besar. Data center membutuhkan ruang yang luas, stabilitas infrastruktur, dan biaya operasional yang tinggi. Perubahan desain yang signifikan juga memerlukan investasi tambahan. Apakah masyarakat akan lebih menerima data center jika terlihat lebih indah? Waktu yang akan menjawabnya.