Modus Penipuan Baru di Selat Hormuz yang Ditutup Iran

Penipu kripto kini memanfaatkan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dengan menyamar sebagai otoritas Iran. Mereka menawarkan jalur aman bagi kapal-kapal yang terdampar di wilayah barat Teluk Persia, dengan imbalan pembayaran dalam bentuk Tether (USDT) atau Bitcoin (BTC).

Menurut laporan Reuters, perusahaan manajemen risiko maritim asal Yunani, MARISKS, telah mengeluarkan peringatan kepada pemilik kapal. Beberapa kapal yang terdampar menerima tawaran "izin keluar" yang mencurigakan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. MARISKS secara tegas menyatakan, "Pesan-pesan ini adalah penipuan."

Kebijakan Iran yang Menyebabkan Kekacauan

Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada awal Maret 2026. Mereka mengancam untuk "membakar habis" kapal mana pun yang mencoba melintas setelah serangan AS dan Israel. Pada 8 April 2026, juru bicara Serikat Ekspor Minyak Iran, Hamid Hosseini, menyatakan bahwa otoritas Iran akan mengirimkan email kepada pemilik kapal untuk mengatur pembayaran BTC sebagai imbalan izin keluar.

Pernyataan ini menimbulkan kebingungan karena klaim-klaim yang tidak akurat:

  • Pembayaran BTC dianggap akan selesai dalam hitungan detik (padahal membutuhkan beberapa menit),
  • Transaksi dianggap tidak dapat dilacak (padahal jejak BTC sangat mudah dilacak),
  • Pembayaran dianggap dapat menghindari sanksi (padahal AS telah membekukan dompet BTC Iran).

Kondisi Selat Hormuz yang Tidak Stabil

Selat Hormuz terus mengalami pembukaan dan penutupan yang tidak menentu. Pada 18 April 2026, dua kapal India mencoba melintas dengan izin yang mereka yakini sah. Namun, otoritas Iran membuka tembakan, memaksa kedua kapal untuk mundur. Dalam insiden terpisah, kapal tanker India Sanmar Herald dilaporkan memohon kepada pasukan Iran untuk menghentikan tembakan melalui rekaman audio yang beredar di media sosial.

Belum diketahui apakah kapal-kapal tersebut menerima izin palsu dari penipu kripto. Pada hari yang sama, Selat Hormuz sempat dibuka sebentar sebelum ditutup kembali akibat blokade AS yang diberlakukan sejak 13 April 2026. Beberapa kapal pesiar dengan penumpang berhasil melarikan diri saat pembukaan singkat tersebut, namun dilaporkan sempat menjadi sasaran tembakan.

Baru-baru ini, AS menyita kapal kontainer Iran yang mencoba menerobos blokade pada Minggu lalu. Saat ini, diperkirakan ada 20.000 kapal terdampar di Teluk Persia.

Upaya Diplomasi dan Dampak Global

Pembicaraan damai antara AS dan Iran telah menghasilkan gencatan senjata selama 10 hari, yang berakhir besok. Laporan menyebutkan akan ada negosiasi lanjutan minggu ini. Beberapa negara Asia, termasuk Pakistan, India, dan Filipina, diizinkan melintas melalui Selat Hormuz. Kapal-kapal China juga dilaporkan berhasil melintas dengan aman, dan Presiden Xi Jinping menyerukan agar rute ini tetap terbuka.

"Situasi di Selat Hormuz sangat tidak stabil. Penipu memanfaatkan kebingungan untuk melakukan kejahatan. Pemilik kapal harus waspada dan tidak mudah percaya dengan tawaran yang tidak jelas."

— Perusahaan MARISKS, dalam peringatan resminya

Langkah-Langkah Pencegahan bagi Industri Maritim

MARISKS menyarankan beberapa langkah untuk menghindari penipuan:

  • Verifikasi izin melalui saluran resmi pemerintah Iran,
  • Hindari pembayaran dalam bentuk kripto untuk izin keluar,
  • Laporkan setiap tawaran mencurigakan kepada pihak berwenang setempat.

Industri maritim diimbau untuk tetap waspada dan tidak terpancing oleh tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.

Sumber: Protos