Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki minggu ke-9 sejak pecahnya perang. Alasan di balik serangan ini pun masih samar, bahkan hingga saat ini tidak ada tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Upaya negosiasi damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada akhir pekan lalu gagal setelah pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan.

Presiden Donald Trump dalam unggahan media sosialnya menyebutkan, "Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali di Iran, termasuk mereka sendiri. Kami memiliki semua kartu, mereka tidak punya apa-apa!" Dalam situasi yang semakin membingungkan ini, banyak masyarakat yang memiliki pertanyaan mengenai perang Iran. Oleh karena itu, koresponden kebijakan luar negeri senior Vox, Joshua Keating, menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan pembaca mengenai konflik ini.

1. Apakah Serangan ke Iran Benar untuk Mencegah Senjata Nuklir?

Banyak pihak di sayap kanan Amerika Serikat membela keputusan untuk menyerang Iran sebagai langkah penting untuk mencegah rezim tersebut memperoleh senjata nuklir. Namun, apakah klaim ini memiliki dasar yang kuat?

Iran diketahui memiliki stok sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi. Jumlah ini, secara teoretis, cukup untuk memproduksi 10 hingga 11 senjata nuklir. Meskipun Iran telah menyangkal memiliki ambisi untuk membangun bom nuklir dan Ayatollah Ali Khamenei pernah mengeluarkan fatwa yang melarang senjata nuklir, tidak ada penggunaan sipil yang masuk akal untuk tingkat pengayaan uranium yang dilakukan Iran.

Sebaliknya, Iran mungkin memandang status sebagai negara "ambang nuklir" sebagai leverage dalam negosiasi dengan Barat serta bentuk deterrence. Namun, perhitungan ini terbukti keliru. Saat ini, uranium yang dimiliki Iran—yang disebut Trump sebagai "debu nuklir"—masih terkubur di bawah tanah di salah satu atau lebih situs pengayaan utama mereka.

Pertanyaannya, apakah Iran mampu menggali material tersebut dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat digunakan sebelum terdeteksi dan diserang oleh AS atau Israel? Jawabannya masih belum pasti. Namun, setelah dua kali dibom dalam setahun terakhir saat sedang bernegosiasi mengenai nuklir, Iran kini memiliki lebih banyak alasan untuk mengembangkan senjata nuklir daripada sebelumnya.

2. Akankah Selat Hormuz Ditutup Secara Permanen?

Kemungkinan penutupan Selat Hormuz bergantung pada apa yang dimaksud dengan "ditutup" dan "secara permanen". Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump pekan lalu mungkin menunjukkan bahwa ia tidak berniat untuk membuka selat melalui tindakan militer, atau hanya menunggu lebih banyak aset militer tiba di kawasan tersebut.

Namun, kedua belah pihak memiliki insentif ekonomi untuk membuka kembali selat ini. Meskipun demikian, Iran mungkin memiliki insentif yang lebih besar untuk menyebabkan gangguan yang cukup signifikan bagi lawannya agar tidak mempertimbangkan serangan lagi dalam waktu dekat.

3. Siapa yang Sebenarnya Berkuasa di Iran?

Pernyataan Trump bahwa "tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali di Iran, termasuk mereka sendiri" mencerminkan ketidakpastian yang melingkupi struktur pemerintahan Iran. Sistem politik Iran yang kompleks, dengan peran yang tumpang tindih antara pemimpin spiritual, pemerintah, dan pasukan keamanan, sering kali menimbulkan kebingungan.

Meskipun Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi memiliki otoritas tertinggi, pengaruhnya tidak selalu mutlak dalam pengambilan keputusan strategis. Kelompok-kelompok seperti Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga memiliki peran yang signifikan dalam kebijakan luar negeri dan keamanan nasional. Ketidakpastian ini semakin diperparah oleh serangan-serangan yang terjadi baru-baru ini, yang menunjukkan adanya ketegangan internal dalam pemerintahan Iran.

4. Apa Dampak Perang terhadap Stabilitas Regional?

Perang yang melibatkan Iran tidak hanya berdampak pada negara tersebut, tetapi juga pada stabilitas regional di Timur Tengah. Negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, Irak, dan negara-negara Teluk lainnya merasakan dampak langsung dari konflik ini, baik melalui pengungsi, gangguan pasokan energi, maupun ketegangan politik.

Selain itu, perang ini juga memicu persaingan antara kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Iran, yang masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Ketidakstabilan di kawasan ini dapat memicu konflik yang lebih luas dan mengancam perdamaian global.

5. Bagaimana Masa Depan Hubungan AS-Iran?

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah berada di titik terendah dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun kedua negara pernah memiliki hubungan diplomatik, saat ini hubungan tersebut hampir tidak ada. Perang yang sedang berlangsung semakin memperburuk ketegangan, dan kemungkinan untuk kembali ke meja perundingan tampaknya semakin sulit.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa konflik yang berkepanjangan sering kali memaksa kedua belah pihak untuk mencari jalan keluar. Apakah perang ini akan membawa perubahan signifikan dalam hubungan AS-Iran, atau justru memperdalam jurang pemisah, masih menjadi tanda tanya besar.

"Perang ini tidak hanya tentang senjata nuklir atau pengaruh regional, tetapi juga tentang siapa yang akan mendominasi lanskap politik di Timur Tengah dalam beberapa dekade mendatang."

Sumber: Vox