Gerakan Anti-Aborsi Menghadapi Krisis setelah Kebijakan Trump

Ratusan ribu pengunjuk rasa berkumpul di Washington, DC, untuk March for Life pada 23 Januari 2026. Namun, di balik sorak kemenangan setelah Roe v. Wade dibatalkan, gerakan anti-aborsi justru merasakan kekecewaan yang mendalam. Mereka berharap akan lebih banyak pencapaian setelah kemenangan hukum tersebut.

Harapan yang Tak Terwujud

Sejak Roe v. Wade dibatalkan pada 2022, gerakan anti-aborsi yakin akan terjadi penurunan jumlah aborsi di AS. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Jumlah aborsi meningkat dibandingkan saat Roe v. Wade masih berlaku.

Marjorie Dannenfelser, Presiden Susan B. Anthony Pro-Life America, memperingatkan dalam pidato di gala organisasi tersebut pada April 2026:

"Jika Partai Republik sepenuhnya mengikuti strategi pemerintahan ini yang hanya mengandalkan negara bagian dan meninggalkan komitmen untuk tindakan pro-kehidupan di tingkat nasional, maka gerakan ini akan berakhir."

Kebijakan Trump yang Mengecewakan

Salah satu sumber kekecewaan terbesar adalah kebijakan pemerintah Trump yang tidak mendukung larangan aborsi nasional. Sebaliknya, pemerintah memilih pendekatan terfragmentasi dengan mendelegasikan pengaturan obat aborsi kepada masing-masing negara bagian.

Pemerintah juga mengizinkan obat aborsi generik, mifepristone, untuk dipasarkan. Selain itu, regulasi era Biden yang memungkinkan wanita memesan obat aborsi secara daring tanpa konsultasi tatap muka dengan dokter tetap dipertahankan.

Perbedaan Pandangan dalam Gerakan

Gerakan anti-aborsi berharap bahwa keputusan Dobbs—yang membatalkan Roe v. Wade—akan membuka jalan bagi tindakan federal yang lebih tegas. Namun, Trump justru menghindari keterlibatan federal dalam isu ini.

Menurut para aktivis, Trump lebih memilih strategi yang menguntungkan secara politik daripada mengambil langkah konkret untuk melarang aborsi secara nasional. Hal ini membuat mereka merasa ditinggalkan oleh sosok yang selama ini mereka dukung.

Apa yang Diharapkan Aktivis Selanjutnya?

Para pemimpin gerakan anti-aborsi kini menekan Partai Republik untuk mengambil tindakan yang lebih tegas. Mereka mendesak agar:

  • Larangan aborsi nasional diberlakukan, bukan hanya di tingkat negara bagian;
  • Regulasi obat aborsi diperketat, termasuk menghapus opsi pemesanan daring;
  • Kebijakan federal yang pro-kehidupan diimplementasikan, bukan hanya mengandalkan inisiatif negara bagian.

Namun, dengan Trump yang enggan mengambil peran aktif, masa depan gerakan ini tampak suram. Banyak yang khawatir bahwa tanpa dukungan pemerintah federal, upaya untuk membatasi aborsi akan gagal total.

Reaksi dari Kalangan Pro-Kebebasan

Sementara itu, kelompok pro-kebebasan berpendapat bahwa kebijakan saat ini justru lebih demokratis karena memberikan pilihan kepada wanita. Mereka menilai bahwa pemerintah tidak seharusnya ikut campur dalam keputusan pribadi tersebut.

Perdebatan ini semakin memanas seiring dengan meningkatnya jumlah aborsi pasca-pembatalan Roe v. Wade. Kini, gerakan anti-aborsi harus mencari strategi baru untuk mencapai tujuan mereka—atau menghadapi kenyataan bahwa perjuangan mereka mungkin akan berakhir.

Sumber: Vox