Prajurit AS Diduga Manfaatkan Informasi Rahasia untuk Untung di Polymarket
Seorang prajurit pasukan khusus Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, kini menghadapi tuntutan pidana. Ia diduga menggunakan aksesnya terhadap informasi rahasia operasi tersebut untuk memenangkan lebih dari $400.000 (sekitar Rp6 miliar) di pasar taruhan daring Polymarket.
Departemen Kehakiman AS mengumumkan tuntutan tersebut pada Kamis (12/6/2025), menuduh Gannon Ken Van Dyke, 38 tahun, melakukan pencurian informasi pemerintah non-publik, penipuan komoditas, penipuan kawat, serta transaksi keuangan ilegal. Jika terbukti, ia bisa menghadapi hukuman penjara bertahun-tahun.
Operasi Rahasia yang Disalahgunakan
Menurut keterangan dari kantor jaksa federal New York, Van Dyke terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi penangkapan Maduro selama sekitar satu bulan, mulai 8 Desember 2025. Meskipun telah menandatangani perjanjian kerahasiaan yang melarangnya membocorkan informasi sensitif terkait operasi, jaksa menyatakan bahwa ia justru memanfaatkan informasi tersebut untuk melakukan serangkaian taruhan mengenai kemungkinan Maduro lengser dari jabatannya sebelum 31 Januari 2026.
"Ini melibatkan seorang prajurit AS yang diduga memanfaatkan posisinya untuk mencari keuntungan dari operasi militer yang sah," kata Direktur FBI Kash Patel dalam unggahan media sosialnya.
Modus Operandi: Taruhan Berdasarkan Informasi Rahasia
Jaksa federal mengungkapkan bahwa Van Dyke mentransfer $35.000 dari rekening pribadinya ke akun pertukaran mata uang kripto pada 26 Desember 2025—kurang dari dua minggu sebelum pasukan AS melancarkan serangan ke Caracas dan menangkap Maduro. Dari dana tersebut, ia menggunakan lebih dari $32.500 untuk melakukan taruhan mengenai kapan Maduro akan kehilangan kekuasaan.
Taruhan tersebut dilakukan antara 30 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, dengan sebagian besar transaksi terjadi pada malam 2 Januari—beberapa jam sebelum serangan pertama diluncurkan ke ibu kota Venezuela. Hasil taruhan tersebut menghasilkan keuntungan lebih dari $404.000, sementara tiga kontrak terkait Venezuela lainnya menambah lebih dari $5.000 bagi Van Dyke.
Dampak terhadap Keamanan Nasional AS
Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka AS (CFTC) juga mengajukan tuntutan paralel terhadap Van Dyke. Ketua CFTC, Michael Selig, menyatakan, "Tersangka diberikan kepercayaan untuk mengakses informasi rahasia mengenai operasi AS, namun justru mengambil tindakan yang membahayakan keamanan nasional AS dan membahayakan nyawa prajurit Amerika."
CFTC menuding Van Dyke melakukan transaksi ilegal dengan mengonversi dana pribadi ke mata uang kripto sebelum melakukan taruhan. Pada 3 Januari 2026, Presiden Donald Trump memposting foto Maduro yang kini ditangkap, mengenakan pakaian abu-abu, headphone, dan penutup mata, di platform media sosialnya.
Polymarket Beraksi setelah Mengetahui Kecurangan
Polymarket, salah satu pasar taruhan prediksi terbesar di dunia, mengaku telah mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan yang melibatkan informasi pemerintah rahasia. Perusahaan tersebut segera melaporkan kasus ini kepada Departemen Kehakiman AS dan menyatakan siap bekerja sama dalam investigasi.
"Perdagangan orang dalam tidak memiliki tempat di Polymarket," kata perusahaan tersebut dalam pernyataan resmi.
Saat ini, nomor telepon yang terdaftar atas nama Van Dyke dalam catatan publik tidak aktif. Belum ada pengacara yang terdaftar untuknya dalam dokumen pengadilan.
Implikasi Hukum dan Masa Depan Kasus
Tuntutan terhadap Van Dyke menyoroti pentingnya menjaga kerahasiaan informasi militer dan risiko penyalahgunaan akses terhadap data sensitif. Kasus ini juga menjadi peringatan bagi platform perdagangan daring untuk lebih ketat dalam memantau aktivitas mencurigakan.
Departemen Kehakiman AS dan CFTC terus menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Van Dyke. Jika terbukti bersalah, ia dapat menghadapi hukuman penjara yang signifikan serta denda besar.