Dalam pertemuan puncak antara Amerika Serikat dan China di Beijing pada Kamis (15/11), Presiden China Xi Jinping memberikan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump mengenai isu Taiwan. Pertemuan dua hari ini bertujuan menjaga stabilitas hubungan kedua negara yang tengah menghadapi berbagai ketegangan.

Menurut laporan media resmi China, Xinhua News Agency, Xi menekankan bahwa jika Taiwan dikelola dengan baik, hubungan AS-China akan tetap stabil. Namun, jika tidak, kedua negara berisiko mengalami bentrokan hingga konflik yang dapat membahayakan hubungan bilateral secara keseluruhan.

Peringatan Xi ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara kedua negara. Pada Desember tahun lalu, Trump telah menyetujui paket senjata senilai $11 miliar untuk Taiwan, sebuah wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya. Meskipun demikian, pengiriman senjata tersebut belum dilaksanakan hingga saat ini.

Dalam pertemuan tertutup, Xi juga menyatakan bahwa pintu China untuk kerja sama dengan dunia usaha AS akan semakin terbuka lebar. Hal ini disampaikan kepada para pemimpin perusahaan AS yang menemani Trump dalam kunjungan tersebut. Sementara itu, Trump mendorong para pengusaha AS untuk memperluas kerja sama dengan China, menegaskan bahwa mereka menghargai dan menghormati negara tersebut.

Isu perang dengan Iran juga menjadi pembahasan penting dalam pertemuan ini. Sebelum pertemuan, Trump berharap China dapat menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Iran menerima syarat AS guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua bulan atau membuka kembali Selat Hormuz yang strategis. Namun, Trump tampaknya telah meredam ekspektasi tersebut menjelang pertemuan.

Meskipun tidak diharapkan ada terobosan besar dalam isu-isu sensitif seperti perdagangan, teknologi, dan Taiwan, kedua pemimpin sepakat untuk membentuk dewan khusus guna mengatasi perbedaan dan mencegah terulangnya perang dagang yang sempat memanas tahun lalu akibat kenaikan tarif oleh AS.