Proyek Data Center AI Trump di Texas Terancam Gagal
Proyek ambisius Donald Trump untuk membangun data center AI terbesar di Texas tengah mengalami krisis internal. Fermi America, perusahaan yang ditunjuk sebagai pengembang utama President Donald J. Trump Advanced Energy and Intelligence Campus, dilaporkan mengalami kesulitan serius dalam menjaga stabilitas operasional.
Kehilangan Pimpinan Kunci
Menurut laporan Axios, Fermi America baru-baru ini kehilangan dua eksekutif kunci: CEO Toby Neugebauer dan CFO Miles Everson mengundurkan diri secara berturut-turut. Neugebauer, yang sebelumnya tidak menyebutkan rencana pengunduran dirinya saat wawancara dengan Axios, mengakui kegagalan dalam memahami rantai pasok peralatan pendingin data center.
"Saya akan menerima itu sebagai kegagalan."
Masalah Keuangan dan Operasional
Proyek bernama Project Matador ini direncanakan memiliki kapasitas 17 gigawatt di Texas, namun hingga kini belum berhasil menarik penyewa komersial. Hal ini menjadi syarat utama bagi perusahaan data center di tengah booming AI. Akibatnya, saham Fermi America anjlok hingga 71% dalam enam bulan terakhir.
Perusahaan juga mencatat kerugian tahunan hampir $500 juta pada 2025 tanpa adanya pendapatan sama sekali. Neugebauer bahkan pernah mengusulkan untuk menjual perusahaan, namun ditolak oleh eksekutif yang tersisa. Fermi America menyatakan bahwa penjualan tidak akan menguntungkan dalam jangka panjang.
Dampak terhadap Industri Data Center
Kegagalan proyek ini menimbulkan pertanyaan besar bagi industri data center. Jika proyek yang didukung mantan presiden Amerika Serikat saja mengalami masalah, bagaimana dengan perusahaan lain? Para ahli mulai mempertanyakan keberlanjutan investasi besar-besaran di sektor ini.
Lebih Banyak Masalah bagi Data Center
Sebuah studi terbaru juga mengungkapkan bahwa data center menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan di wilayah sekitarnya. Temuan ini semakin menekankan tantangan lingkungan yang dihadapi industri ini.
Sumber: Axios, Reuters, Futurism