Baru-baru ini, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempercepat akses terhadap penelitian dan pengobatan psikedelik. Ia didampingi oleh figur publik terkenal Joe Rogan, yang dikenal sebagai salah satu pendukung terbesar psikedelik, serta sekelompok pendukung dari Military Association of America (MAHA).
Penggunaan zat psikedelik—baik alami maupun sintetis—sebenarnya telah ada sejak zaman Neanderthal. Namun, dalam dunia medis konvensional, zat ini sering dianggap sebagai "narkoba klub" tanpa nilai klinis yang signifikan, bahkan dianggap berbahaya. Baru dalam beberapa tahun terakhir, psikedelik mulai mendapatkan pengakuan sebagai terapi potensial untuk gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan PTSD.
Meskipun demikian, gerakan psikedelik modern justru mengabaikan kelompok masyarakat berwarna. Sejarah mencatat bahwa komunitas ini telah lama menjadi korban stigma dan diskriminasi dalam sistem kesehatan. Ketika psikedelik mulai mendapatkan momentum, banyak penelitian dan kebijakan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan serta pengalaman mereka.
Menurut para ahli, kurangnya representasi dalam penelitian psikedelik berisiko memperdalam ketidakadilan kesehatan. Sebagian besar uji klinis masih didominasi oleh partisipan berkulit putih, sementara kelompok minoritas sering kali tidak terlibat atau bahkan diabaikan. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian dalam pengembangan terapi yang efektif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sejumlah organisasi dan aktivis kini menyerukan inklusivitas yang lebih besar dalam penelitian psikedelik. Mereka menekankan pentingnya melibatkan komunitas berwarna sejak tahap awal, mulai dari desain penelitian hingga implementasi kebijakan. Tanpa langkah ini, revolusi psikedelik dikhawatirkan hanya akan menguntungkan sebagian kecil masyarakat saja.
Di tengah euforia akan potensi psikedelik, pertanyaan besar tetap mengemuka: Siapa yang benar-benar akan diuntungkan oleh revolusi ini?