Dua bulan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, dampak perang ini telah mengubah sistem energi global secara permanen. Blokade Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui 20% pasokan minyak dan gas dunia—telah memicu krisis energi terbesar dalam sejarah modern, dengan tidak ada tanda-tanda pelonggaran dalam waktu dekat.
Sebanyak 25 negara kini melaporkan kekurangan bahan bakar jalan raya, bahan bakar pesawat, dan minyak pemanas. Berbeda dengan krisis minyak tahun 1970-an, saat itu belum ada alternatif energi yang cukup kuat dan murah untuk menggantikan bahan bakar fosil, kini situasinya berbeda. Energi terbarukan telah berkembang pesat, menawarkan pilihan yang lebih kompetitif dengan biaya yang terus menurun.
"Sekarang kita memiliki alternatif yang layak," kata Selwin C. Hart, penasihat khusus Sekretaris Jenderal PBB, dalam konferensi internasional pertama tentang transisi energi di Kolombia pekan ini. "Energi terbarukan telah mengubah persamaan ini."
Namun, meski kalkulasi ini telah berubah, sulit untuk memprediksi arah perkembangan sistem energi global ke depan. Meskipun keandalan pasokan minyak dan gas dunia kini dipertanyakan, belum tentu energi terbarukan akan menutupi seluruh atau sebagian besar kekosongan tersebut. Batu bara, sebagai bahan bakar fosil paling kotor, justru semakin diminati di tengah upaya penggantian gas alam untuk pembangkit listrik. Selain itu, sulit bagi energi surya dan angin untuk menggantikan pasokan listrik 24 jam yang selama ini disediakan oleh kedua bahan bakar fosil tersebut.
"Sulit untuk mengatakan ke mana arah perkembangan ini akan menuju," ujar Daan Walter, peneliti utama di lembaga pemikir energi Ember, kepada Grist.
Meski demikian, dua bulan setelah perang dimulai, terlihat jelas sumber energi mana yang akan diuntungkan dan mana yang akan terpuruk akibat perubahan ini. Ketika harga melonjak dan pasokan menipis, negara-negara di seluruh dunia tengah mengevaluasi masa depan energi mereka. Beberapa negara kembali mengandalkan bahan bakar kotor untuk menutupi kekurangan akibat penutupan Selat Hormuz, sementara yang lain justru mengumumkan investasi besar-besaran dalam energi bersih untuk melepaskan ketergantungan pada sumber energi yang selama lebih dari seratus tahun menjadi andalan.
Di Irak, misalnya, pemerintah mulai mengekspor minyak dengan mengirimkannya melalui truk tangki ke Suriah. Seorang pejabat mengungkapkan bahwa pendapatan minyak negara itu turun lebih dari 70% pada Maret lalu.
Pemangku Kepentingan yang Kalah: Minyak dan Gas Alam
Perang di Iran telah membuat pasokan minyak dan gas alam semakin tidak stabil. Blokade Selat Hormuz telah memutuskan 20% pasokan global, memaksa negara-negara pencari minyak untuk mencari solusi darurat. Meskipun beberapa negara mencoba menyesuaikan dengan menaikkan produksi lokal atau mengimpor dari sumber alternatif, dampak ekonomi dan geopolitik dari perang ini telah membuat pasar energi global menjadi sangat tidak pasti.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas, seperti negara-negara Eropa dan Asia Timur, kini menghadapi tekanan besar. Lonjakan harga energi telah memicu inflasi dan mengancam stabilitas ekonomi. Sementara itu, negara-negara produsen minyak seperti Arab Saudi dan Rusia tengah mempertimbangkan langkah-langkah untuk memanfaatkan situasi ini, meskipun mereka juga merasakan dampak dari ketidakstabilan pasar.
Pemangku Kepentingan yang Diuntungkan: Energi Terbarukan
Di tengah krisis ini, energi terbarukan muncul sebagai solusi yang semakin menarik. Biaya produksi panel surya dan turbin angin telah turun drastis dalam beberapa tahun terakhir, membuatnya lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil. Negara-negara seperti Jerman, Spanyol, dan bahkan beberapa negara di Asia kini mempercepat proyek-proyek energi bersih mereka untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.
Investasi dalam energi terbarukan juga meningkat pesat. Menurut laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA), investasi global dalam energi bersih diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi pada tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun krisis energi saat ini masih berlangsung, masa depan energi global kemungkinan akan didominasi oleh sumber-sumber yang lebih bersih dan berkelanjutan.
"Krisis ini telah mempercepat transisi energi," kata seorang analis energi dari BloombergNEF. "Negara-negara kini menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi bergantung pada bahan bakar fosil yang tidak stabil."
Meskipun demikian, transisi ini tidak akan terjadi dalam semalam. Infrastruktur energi terbarukan masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, dan tantangan logistik serta teknologi tetap ada. Namun, dengan semakin banyaknya negara yang berkomitmen untuk mencapai target netral karbon, energi terbarukan diprediksi akan memainkan peran yang semakin penting dalam sistem energi global di masa depan.