Perjalanan cahaya dari Bumi ke Mars membutuhkan waktu rata-rata 12,5 menit. Dengan teknologi propulsi saat ini, perjalanan ke Planet Merah—ketika kedua planet berada dalam posisi yang ideal—masih memakan waktu antara lima hingga 11 bulan.
Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Acta Astronautica mengungkapkan adanya kemungkinan untuk memangkas durasi perjalanan tersebut. Marcelo de Oliveira Souza, kosmolog dari Universitas Negeri Rio de Janeiro Utara, Brasil, meneliti lintasan asteroid dan menemukan rute optimal yang dapat mempersingkat perjalanan pulang-pergi ke Mars menjadi hanya 153 hari.
Souza menganalisis jalur asteroid 2001 CA21, yang melintasi orbit Bumi dan Mars dengan kemiringan stabil lima derajat. Ia kemudian menghitung perjalanan tersebut untuk oposisi Mars dalam lima tahun mendatang. Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2031, posisi planet akan sangat ideal untuk mendukung dua misi pulang-pergi dalam waktu kurang dari setahun.
Menurut makalah tersebut, oposisi Mars tahun 2031 menjadi momen yang sangat menguntungkan karena memungkinkan dua jalur perjalanan dari Bumi ke Mars dengan durasi 33 dan 56 hari. Sementara itu, perjalanan pulangnya dapat diselesaikan dalam waktu total sekitar 153 dan 226 hari.
Meskipun demikian, banyak faktor lain yang memengaruhi durasi perjalanan ke Mars, seperti metode propulsi, kapasitas bahan bakar, dan massa muatan. Meskipun penelitian selama beberapa dekade telah dilakukan, menempuh jarak rata-rata 225 juta kilometer—jauh lebih jauh daripada Bulan—dengan awak manusia tetap menjadi tantangan besar.
Belum lagi kebutuhan untuk mencari tempat berlindung hingga oposisi Mars berikutnya agar awak dapat kembali ke Bumi dengan selamat. Namun, temuan terbaru ini menunjukkan bahwa bahkan hal sederhana seperti bidang orbit asteroid dapat membantu mengoptimalkan perjalanan ke Mars. Ini menjadi secercah harapan bahwa kunjungan manusia pertama ke Mars mungkin tidak terlalu jauh lagi.
Tantangan Perjalanan ke Mars yang Masih Ada
Selain durasi perjalanan, misi ke Mars juga menghadapi berbagai kendala teknis dan biologis. Para ilmuwan masih mencari solusi untuk melindungi awak dari radiasi kosmik, mengelola stres psikologis selama perjalanan, serta memastikan ketersediaan sumber daya seperti air dan makanan selama berbulan-bulan.
Meskipun demikian, penelitian ini memberikan optimisme baru dalam eksplorasi antariksa. Dengan memanfaatkan fenomena alam seperti orbit asteroid, manusia dapat lebih siap untuk menghadapi tantangan perjalanan ke Mars di masa depan.