Kisah cinta yang baik selalu memiliki daya tarik tersendiri. Ia membutuhkan karakter yang bisa membuat penonton berempati, situasi yang memisahkan mereka namun akhirnya menyatukan, serta momen-momen salah paham dan tindakan besar yang mengharukan. Bagi format televisi, tambahan lain yang tak kalah penting adalah pemeran utama yang memukau, mampu meyakinkan bahwa perasaan cinta, patah hati, hingga kerentanan mereka terasa begitu nyata.

Seri terbaru Prime Video, "Off Campus", berhasil memenuhi semua kriteria itu. Dengan alur cerita yang solid, soundtrack yang pas, serta pesan moral yang semakin relevan di tengah maraknya perilaku toksik, seri ini tak hanya menghibur tetapi juga menyentuh. Dua hal penting yang diangkat adalah penolakan terhadap toksik maskulinitas dan penekanan pada pentingnya konsen dalam hubungan.

Diadaptasi dari buku laris "The Deal" karya Elle Kennedy—bagian pertama dari seri "Off Campus"—seri ini disutradarai oleh Louisa Levy. Cerita berpusat pada dua tokoh yang tak terduga, yang awalnya membuat perjanjian untuk saling membantu, namun akhirnya justru menemukan keberanian untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Pertemuan yang Tak Terduga

Hannah Wells (diperankan oleh Ella Bright), seorang mahasiswi musik yang relatif pendiam di Universitas Briar, berharap bisa menarik perhatian Justin (Josh Heuston), vokalis band yang selama ini tak pernah menyadari keberadaannya. Sementara itu, Garrett Graham (Belmont Cameli), seorang pemain hoki warisan yang harus meningkatkan nilai akademisnya agar tetap bisa bermain di tim, mencari bantuan dari Hannah untuk les privat.

Garrett kemudian menawarkan diri untuk berpura-pura menjadi pacar Hannah demi membuat Justin akhirnya memperhatikannya. Konsep ini mungkin terdengar mirip dengan "To All The Boys I’ve Loved Before", tetapi jangan salah—kisah ini memiliki ciri khasnya sendiri.

Karakter-Karakter yang Menghidupkan Cerita

Meskipun seri ini berfokus pada hubungan utama antara Hannah dan Garrett, "Off Campus" juga memperkenalkan karakter-karakter menarik lainnya yang berpotensi menjadi bintang di musim-musim berikutnya. Beberapa di antaranya:

  • Dean Di Laurentis (Stephen Kalyn), seorang playboy kaya yang awalnya terasa menjengkelkan namun perlahan menarik simpati;
  • John Logan (Antonio Cipriano), sosok underdog yang sayangnya kurang dimanfaatkan dalam musim pertama;
  • Allie Hayes (Mika Abdalla), sahabat Hannah yang tengah berjuang melewati masa-masa sulit setelah putus cinta;
  • John Tucker (Jalen Thomas Brooks), yang meski tak banyak muncul, memberikan warna tersendiri—terutama saat ia menyelenggarakan Thanksgiving untuk mahasiswa yang tak pulang kampung, meski dengan hasil yang tak sempurna.
  • >

Jika seri ini sukses sebagaimana diprediksi, kita mungkin akan melihat lebih banyak kisah cinta dari karakter-karakter ini di musim berikutnya—seperti "Bridgerton" namun dengan setting mahasiswa perguruan tinggi yang lebih modern dan atraktif.

Kualitas yang Semakin Meningkat

Meskipun episode perdana terasa agak kaku dan mengikuti formula yang umum, setiap episode berikutnya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Para aktor muda yang terlibat semakin menunjukkan bakat mereka, dan kualitas produksi pun semakin terasa. Musik yang dipilih juga turut memperkuat suasana emosional dalam setiap adegan.

Lebih dari sekadar hiburan ringan, "Off Campus" juga membawa pesan penting tentang hubungan yang sehat. Dengan menampilkan tokoh-tokoh yang belajar untuk saling menghormati, seri ini menjadi contoh nyata bagaimana media dapat berkontribusi dalam mendidik penontonnya.

Jika Anda mencari seri romantis yang tak hanya menyenangkan tetapi juga menyentuh hati, "Off Campus" layak untuk disaksikan. Apakah Anda siap untuk jatuh cinta lagi?

Sumber: The Wrap