Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) baru-baru ini mengumumkan dua perubahan aturan federal yang mengatur kecepatan produksi di pabrik pengolahan daging. Rencana ini menuai kritik keras dari para pekerja, ahli kesehatan masyarakat, dan aktivis lingkungan karena dinilai berpotensi membahayakan keselamatan, kesehatan, dan lingkungan.
Perubahan yang diusulkan mencakup kenaikan batas kecepatan produksi di pabrik pengolahan unggas. Untuk ayam, kecepatan yang semula 140 ekor per menit dinaikkan menjadi 175 ekor per menit. Sementara untuk kalkun, batasnya naik dari 55 ekor per menit menjadi 60 ekor per menit. Untuk pengolahan babi, USDA bahkan mengusulkan untuk menghapus batas kecepatan produksi sama sekali.
Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, menyatakan bahwa perubahan ini akan menurunkan biaya produksi dan menjaga stabilitas sistem pangan, serta membantu menjaga harga bahan makanan tetap terjangkau. Kebijakan ini sejalan dengan prioritas pemerintahan sebelumnya yang mendorong peningkatan konsumsi protein hewani di Amerika Serikat.
Namun, para ahli dan pekerja lapangan menilai rencana ini justru membawa lebih banyak risiko daripada manfaat. Dani Replogle, pengacara di Food Water Watch, sebuah lembaga nonprofit lingkungan, menyebut kebijakan ini sebagai “penguatan terhadap sistem pangan yang sudah rusak dan mencemari lingkungan”.
“Potensi cedera bagi pekerja tidak bisa diabaikan,” tegas Replogle. Serikat pekerja United Food and Commercial Workers (UFCW), yang mewakili pekerja di sepanjang rantai pasok pangan, melaporkan bahwa lebih dari 22.000 komentar masyarakat menentang aturan unggas, sementara lebih dari 20.000 komentar menentang aturan babi. Serikat ini bahkan pernah berhasil menggugat dan memblokir penerapan aturan serupa untuk babi pada tahun 2021.
Menurut UFCW, peningkatan kecepatan produksi akan berdampak langsung pada keselamatan pekerja. Meskipun sebagian proses sudah otomatis, tahap awal pengolahan—seperti memasukkan hewan ke dalam pabrik—masih sangat bergantung pada tenaga manusia. Pekerja di bagian ini sering kali terpapar kotoran, panas ekstrem, dan kondisi kerja yang berbahaya.
Di bagian selanjutnya, pekerja harus menangani pisau dan melakukan gerakan berulang dalam waktu lama. Kondisi ini meningkatkan risiko cedera seperti sindrom terowongan karpal, luka sayat, hingga amputasi. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat cedera meningkat seiring dengan kenaikan kecepatan produksi. Namun, USDA membantah temuan ini dan menyatakan bahwa studi yang mereka lakukan menunjukkan tidak ada korelasi antara kecepatan produksi dan tingkat cedera.
Selain masalah keselamatan pekerja, para ahli juga menyoroti dampak lingkungan. Sistem pangan industri yang berbasis daging telah lama dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca yang tinggi, deforestasi, dan polusi air. Peningkatan produksi tanpa pengawasan yang ketat hanya akan memperburuk kondisi lingkungan.
Masyarakat kini menantikan keputusan akhir USDA setelah masa konsultasi publik berakhir. Sementara itu, para aktivis dan pekerja terus mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan ulang kebijakan ini demi keselamatan manusia dan lingkungan.