Dr. Brian Christine, seorang ahli urologi asal Alabama yang dikenal karena spesialisasinya dalam implan penis, kini ditunjuk untuk memimpin respons hantavirus di Amerika Serikat. Informasi ini dilaporkan oleh CNN pada Jumat lalu.
Christine saat ini menjabat sebagai Asisten Sekretaris Kesehatan di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS. Ia juga merupakan salah satu pejabat kesehatan publik terkemuka yang terlibat dalam kebijakan penanganan penyakit menular di negara tersebut. Pada awal pekan ini, ia menyatakan kepada wartawan di Nebraska bahwa respons terhadap wabah berbahaya ini akan didasarkan pada sains dan transparansi.
Namun, latar belakang Christine jauh dari profil pejabat kesehatan AS pada umumnya. Meskipun memiliki pengalaman di bidang kesehatan publik—termasuk sebagai laksamana bintang empat di Korps Komisioner Layanan Kesehatan Publik AS—ia juga dikenal karena pandangan ekstrem kanan dan teori konspirasi tentang kesehatan.
Selama pandemi COVID-19, ia menentang kebijakan mandat vaksinasi dan menyebarkan teori konspirasi yang meragukan rencana penanganan pemerintah. Ia bahkan mengklaim bahwa pandemi merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengontrol masyarakat. Saat dihadapkan pertanyaan oleh Senat AS mengenai rekomendasinya terhadap vaksin COVID-19, ia menghindari jawaban langsung.
Christine juga dikenal karena acara YouTube-nya yang berjudul "Erection Connection", sebuah program profesional bagi para ahli urologi untuk membahas disfungsi ereksi.
Saat ini, lebih dari 40 orang di AS tengah dipantau terkait wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar menuju Rotterdam bulan lalu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan pada Kamis bahwa tidak ada kasus yang terkonfirmasi di AS, dan risiko bagi masyarakat umum tetap rendah. Sembilan kasus telah dikonfirmasi terkait kapal tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi pasangan asal Belanda sebagai penumpang pertama yang terinfeksi virus ini. Diduga mereka terpapar saat mengamati burung di tempat pembuangan sampah di Argentina. Keduanya meninggal akibat infeksi tersebut.