WASHINGTON, D.C. — Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan rencana kontroversial bernama "Project Freedom". Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal melalui selat tersebut untuk memastikan keamanan dan kelancaran lalu lintas laut.

Menurut Trump, banyak negara—yang tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah—telah meminta bantuan AS untuk membebaskan kapal-kapal mereka yang terjebak di Selat Hormuz. "Negara-negara dari seluruh dunia, hampir semuanya tidak terlibat dalam perselisihan Timur Tengah yang tengah berlangsung keras dan terbuka, telah meminta AS untuk membantu membebaskan kapal-kapal mereka yang terjebak di Selat Hormuz," tulis Trump. Ia menambahkan, "Mereka hanya penonton netral dan tidak bersalah! Demi kepentingan Iran, Timur Tengah, dan AS, kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan mengawal kapal-kapal mereka keluar dari jalur terbatas ini agar mereka dapat melanjutkan bisnis dengan aman."

Trump juga menyebutkan bahwa banyak kapal yang kehabisan stok makanan dan kebutuhan dasar lainnya akibat situasi yang tidak menentu. "Saya yakin ini akan menunjukkan niat baik dari semua pihak yang selama berbulan-bulan telah berjuang keras," ujarnya. Lebih lanjut, ia mengancam, "Jika proses kemanusiaan ini diganggu, gangguan tersebut akan ditanggapi dengan tegas, bahkan dengan kekuatan militer."

Dukungan Militer AS dalam 'Project Freedom'

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan rincian dukungan militer untuk proyek ini. "Dukungan militer AS untuk Project Freedom akan mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, platform tanpa awak multi-domain, serta 15.000 personel militer," demikian pernyataan resmi CENTCOM.

Seorang pejabat senior AS yang dikutip Axios menyatakan, "Presiden menginginkan tindakan nyata. Ia tidak ingin diam saja. Ia menginginkan tekanan. Ia menginginkan kesepakatan."

Trump mengklaim bahwa delegasi AS tengah menjajaki pembicaraan positif dengan Iran. Namun, pernyataan resmi dari Iran pada hari ini tampaknya bertentangan dengan klaim tersebut. Ali Abdollahi, kepala komando gabungan pasukan Iran, mengatakan kepada Reuters, "Kami telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di tangan kami. Kelancaran jalur pelayaran harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata."

Abdollahi juga memperingatkan, "Kami mengingatkan bahwa setiap pasukan asing, terutama Angkatan Darat AS yang agresif, akan diserang jika berniat mendekat atau memasuki Selat Hormuz."

Iran Siap Hadapi Ancaman

Meskipun kekuatan angkatan laut Iran terlihat melemah sejak awal konflik, pasukan Iran masih mempertahankan kehadiran mereka di Selat Hormuz. Pasukan kecil dan cepat yang dikenal sebagai "armada nyamuk"—yang kerap menghambat lalu lintas kapal—masih beroperasi di wilayah tersebut.

Pembukaan Selat Hormuz sangat krusial untuk menstabilkan harga minyak dunia, yang selama berbulan-bulan berada pada level tinggi. Ketegangan di wilayah ini telah menjadi perhatian global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi pengiriman minyak.

Reaksi Internasional dan Dampak Ekonomi

Langkah AS dalam meluncurkan Project Freedom menuai berbagai reaksi. Beberapa negara menyambut positif upaya AS untuk menjaga stabilitas di wilayah tersebut, sementara Iran menegaskan akan mempertahankan kedaulatannya.

Para analis ekonomi memperingatkan bahwa jika ketegangan meningkat, harga minyak global bisa melonjak lebih tinggi. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur yang dilalui oleh sekitar sepertiga pasokan minyak dunia.

"Keamanan Selat Hormuz bukan hanya persoalan regional, tetapi juga global. Setiap gangguan di sana akan berdampak luas terhadap ekonomi dunia," ujar seorang ahli geopolitik.
Sumber: Reason