Pemerintahan Presiden Donald Trump kemungkinan besar akan menolak tawaran Iran untuk mengakhiri perang dan membuka Selat Hormuz jika blokade terhadap negara tersebut dicabut. Tawaran tersebut juga menunda pembahasan mengenai program nuklir Iran, yang ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tidak akan diterima.

Dalam wawancara di Fox News pada Senin (12/8), Rubio menyatakan,

"Kami harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat benar-benar mencegah Iran untuk mengembangkan senjata nuklir kapan pun."
Tawaran Iran disampaikan kepada AS melalui Pakistan.

Sementara itu, Gedung Putih mengumumkan bahwa tim keamanan nasional Presiden Trump telah membahas tawaran tersebut. Presiden Trump dikabarkan akan menyampaikan tanggapan resmi dalam waktu dekat.

Tawaran Iran muncul saat Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan kunjungan ke Rusia. Rusia selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung utama Iran. Namun, sejauh ini tidak jelas apakah Rusia akan memberikan bantuan lebih lanjut terkait tawaran tersebut.

Sejak perang dimulai, sedikitnya 3.375 orang tewas di Iran dan 2.521 orang di Lebanon akibat konflik antara Israel dan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Konflik ini kembali memanas dua hari setelah perang Iran dimulai. Selain itu, 23 orang tewas di Israel dan lebih dari selusin di negara-negara Arab Teluk. Korban juga jatuh dari pihak militer: 16 tentara Israel di Lebanon, 13 personel AS di kawasan tersebut, serta enam pasukan penjaga perdamaian PBB di selatan Lebanon.