Festival Film Cannes ke-79 tengah berlangsung di Prancis. Demi Moore, salah satu anggota juri, menyoroti salah satu aspek rumit dalam perfilman modern: kecerdasan buatan (AI).

"Kenyataannya, melawan hanya akan menimbulkan perlawanan. AI sudah ada di sini. Jadi, melawan AI sama saja melawan sesuatu yang pasti akan kita kalahkan," ujar Moore dalam konferensi pers Selasa (21/5). "Oleh karena itu, menemukan cara untuk bekerja sama dengannya adalah langkah yang lebih berharga."

Menjawab pertanyaan mengenai perlindungan diri terhadap AI, Moore menyatakan keraguannya. "Saya tidak tahu apakah kita sudah cukup melindungi diri. Kemungkinan besar, jawabannya adalah belum," katanya. "Seni adalah tentang ekspresi. Jika kita mulai menyensor diri sendiri, kita justru membunuh inti kreativitas yang memungkinkan kita menemukan kebenaran dan jawaban."

Moore bergabung dengan rekan-rekan juri lainnya, yakni Laura Wandel, Chloé Zhao, Ruth Negga, dan ketua juri Park Chan-wook, dalam panel hari pertama di Palais des Festivals. Direktur asal Korea Selatan ini juga membahas peran politik dalam perfilman, menyusul kontroversi yang muncul di Festival Film Berlin awal tahun ini.

Park menekankan, "Karya seni yang mengandung pesan politik tidak boleh dianggap musuh seni. Begitu pula, film tanpa pesan politik tidak boleh diabaikan. Bahkan jika sebuah film menyampaikan pesan politik yang brilian, jika tidak diekspresikan dengan cara yang artistik, ia hanya akan menjadi propaganda." Ia menambahkan, "Seni dan politik bukanlah konsep yang saling bertentangan, selama keduanya diekspresikan secara artistik, keduanya memiliki nilai."

Festival Film Cannes 2026 dijadwalkan berlangsung pada 12-23 Mei. Acara pembukaan pada Selasa (21/5) dimulai dengan pemutaran film The Electric Kiss karya Pierre Salvadori dan penganugerahan Palem Kehormatan kepada Peter Jackson.

Sumber: The Wrap