Perusahaan teknologi selama ini terus memperingatkan bahwa AI akan membawa revolusi industri skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya, jutaan pekerjaan terancam hilang. Bagi mereka yang masih bertahan di tengah gelombang PHK yang terus menerpa industri teknologi, para atasan menekankan bahwa karyawan harus mau mempelajari dan menerapkan AI untuk tetap bisa bekerja — apapun keinginan mereka.
Namun, tidak mengherankan jika muncul kebencian terhadap AI. Teknologi ini telah merambah hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari konten sampah di media sosial hingga chatbot pelayanan pelanggan yang gagal menggantikan peran manusia. Laporan dari The Verge menunjukkan bahwa perlawanan terhadap AI semakin terlihat di kalangan Gen Z, kelompok yang menjadi pusat dorongan industri untuk mengadopsi AI.
Gen Z Menghadapi Pasar Kerja yang Semakin Sulit
Generasi muda ini memasuki dunia kerja di tengah kondisi yang jauh lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya. Pandemi COVID-19 telah menghilangkan banyak kesempatan kerja bagi kaum muda. Biasanya, generasi muda dikenal sebagai pencinta inovasi baru. Namun, bagi Gen Z, AI yang dirancang untuk menggantikan peran manusia justru dianggap sebagai ancaman yang tidak diinginkan — bahkan memicu perlawanan aktif.
“Menurut saya, semua teman dekat saya tidak menggunakan AI dan bahkan menentangnya. Kecuali teman-teman yang belajar ilmu komputer dan dipaksa untuk menggunakannya,” ujar Sharon Freystaetter, mantan karyawan teknologi Silicon Valley yang keluar karena alasan etika, kepada The Verge.
Kekhawatiran yang Semakin Nyata
Gen Z memiliki alasan kuat untuk menolak AI. Dampak negatif dari penggunaan AI generatif semakin sulit diabaikan. Data menunjukkan bahwa pusat data raksasa yang digunakan untuk menjalankan AI merusak lingkungan dalam skala yang mencengangkan. Selain itu, penggunaan chatbot AI secara luas telah melemahkan kemampuan berpikir kritis dan bahkan mendorong beberapa orang ke dalam jurang delusi yang berbahaya.
Survei terbaru juga menggambarkan penurunan drastis dalam pandangan positif Gen Z terhadap AI. Salah satu survei Gallup menunjukkan bahwa hanya 18% Gen Z yang merasa “optimis” terhadap AI. Angka ini turun sebanyak sembilan poin dibandingkan tahun 2025.
AI di Dunia Pendidikan: Ancaman terhadap Proses Belajar
Keterlibatan AI dalam dunia pendidikan semakin memicu kemarahan Gen Z. Sebuah editorial tajam berjudul “Penn has an AI problem”, yang diterbitkan oleh surat kabar mahasiswa Universitas Pennsylvania bulan lalu, menyatakan:
“AI tidak dapat hidup berdampingan dengan pendidikan — AI hanya akan merusaknya. Ketika teknologi berkembang dan pekerja digantikan oleh mesin, sekolah adalah salah satu tempat terakhir yang tersisa bagi kita untuk mengeksplorasi dan memahami pemikiran manusia.”
Ketidaksempurnaan AI yang Semakin Terlihat
Salah satu alasan utama ketidaksukaan Gen Z terhadap AI adalah kemampuan mereka untuk melihat berbagai kekurangan teknologi ini. Mulai dari “halusinasi” yang sering terjadi hingga bahaya “pengalihan kognitif” — istilah ketika seseorang mulai menyerahkan tugas-tugas mental kepada AI. Situasi ini telah mencapai titik di mana proporsi Gen Z yang mencengangkan bahkan secara aktif menghambat inisiatif AI di tempat kerja mereka.
Menurut laporan terbaru dari perusahaan AI Writer dan firma riset Workplace Intelligence, 44% karyawan Gen Z yang disurvei mengaku “menghambat strategi AI perusahaan mereka dengan setidaknya satu cara.” Mereka melakukannya dengan memasukkan data perusahaan yang bersifat rahasia ke dalam chatbot atau bahkan menolak menggunakan AI sama sekali.