Adriana Quiroz Zapata, seorang korban penyiksaan dari Kolombia, akhirnya dideportasi oleh U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) ke Republik Demokratik Kongo (DRC) pada 16 April 2024. Ia adalah salah satu dari 15 orang yang dikirim tanpa memiliki hubungan apapun dengan negara tujuan.

Zapata sebelumnya melarikan diri dari Kolombia setelah mengalami penyiksaan berulang, termasuk pemukulan dan pemerkosaan oleh rekan polisi mantan pacarnya. Ia berhasil selamat, tetapi malah mengalami perlakuan buruk di Amerika Serikat. Karena Convention Against Torture mencegahnya dideportasi ke Kolombia, ICE mencoba meninggalkannya di Meksiko. Namun, otoritas imigrasi Meksiko menolak menerimanya setelah mengetahui kisahnya.

Kondisi Zapata semakin memburuk sejak ditahan. Penyakit prediabetes-nya berkembang menjadi diabetes akibat pola makan yang buruk di dalam tahanan. Obat-obatan yang diresepkan kini tidak tersedia di DRC, menurut pengacaranya, Lauren O’Neal. Ia juga mengatakan bahwa kliennya saat ini dalam kondisi yang sangat rapuh secara fisik dan mental.

Ancaman Kematian dan Tekanan Politik

Anggota Kongres AS, Rep. Rob Menendez (D-N.J.), yang merupakan perwakilan konstituen keluarga Zapata, mengecam keras tindakan pemerintah. Ia menyebut deportasi ini sebagai bentuk kekejaman tanpa batas dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dijanjikan kepada masyarakat Amerika.

"Tidak ada batasan bagi kekejaman mereka. Rakyat Amerika perlu tahu bahwa ada ketidaksesuaian besar antara apa yang mereka janjikan dengan tindakan nyata. Orang-orang dengan status perlindungan justru dideportasi ke negara ketiga di Afrika menggunakan uang pajak," ujar Menendez.

Di forum kongres, Menendez juga menuding Partai Republik yang diam dan bahkan mendukung kebijakan deportasi massal yang brutal ini. Ia memperingatkan, "Jika kita tidak membawa Zapata kembali, ia akan mati."

Kondisi Hidup yang Memprihatinkan

Menurut O’Neal, Zapata saat ini hanya diberi roti dan air dengan akses terbatas ke toko kelontong. Ia juga diduga menjadi target tekanan dari perwakilan DRC dan Kolombia yang mendesaknya untuk menandatangani dokumen pelepasan hak. Jika terjadi, hal ini dapat memaksa Zapata untuk meninggalkan tuntutannya atas penyiksaan yang dialaminya.

Upaya untuk memulangkan Zapata secara kemanusiaan ke AS telah diajukan, tetapi hingga saat ini belum ada kepastian. Kondisi kesehatannya yang semakin memburuk dan tekanan psikologis yang dialaminya membuat situasi semakin genting.