Jason Collins, pemain NBA pertama yang terbuka sebagai gay, meninggal dunia pada usia 47 tahun akibat kanker otak stadium lanjut. Keluarganya mengumumkan kabar duka tersebut pada Selasa (11/6).
Pada tahun lalu, Collins didiagnosis menderita tumor otak yang kemudian diketahui sebagai glioblastoma stadium 4, jenis kanker otak yang sangat agresif dan sulit disembuhkan. Dalam wawancara dengan ESPN pada Desember 2023, Collins mengungkapkan bahwa ia sempat menjalani perawatan eksperimental di Singapura untuk memperlambat perkembangan tumor. Tujuannya agar sistem imun pribadinya dapat dikembangkan untuk pengobatan yang lebih tepat.
"Tujuan saya adalah terus melawan pertumbuhan tumor cukup lama agar terapi imunoterapi pribadi dapat dibuat untuk saya, dan menjaga kesehatan saya agar siap menerima pengobatan itu nanti," ujarnya.
Perawatan tersebut sempat memungkinkan Collins kembali ke Amerika Serikat dan tampil di beberapa acara publik. Namun, kanker kembali menyerang dan semakin parah. Ia akhirnya meninggal di kediamannya di Los Angeles.
Karier Cemerlang dan Warisan sebagai Pionir
Collins memiliki karier selama 13 musim di NBA, prestasi yang luar biasa dalam dunia olahraga. Namun, namanya semakin dikenal karena tindakannya di akhir kariernya. Pada tahun 2013, setelah musim reguler berakhir, ia menulis artikel di Sports Illustrated untuk mengumumkan identitas seksualnya. Dengan langkah tersebut, Collins menjadi atlet aktif pertama dalam empat liga olahraga profesional utama Amerika Serikat yang terbuka sebagai gay.
Meski sempat tidak memiliki kontrak pada musim 2013-2014, ia akhirnya bergabung dengan Brooklyn Nets melalui kontrak 10 hari. Collins tampil perdana sejak pengumuman tersebut pada 23 Februari 2014. Ia menyelesaikan musim tersebut bersama Nets sebelum akhirnya pensiun pada November 2014.
Legacy yang Menginspirasi
Warisan Collins tidak hanya terletak pada prestasi di lapangan, tetapi juga pada keberaniannya membuka jalan bagi atlet-atlet LGBTQ+ di masa depan. Ia menunjukkan bahwa kejujuran dan integritas lebih penting daripada tekanan publik. Melalui perjuangannya melawan kanker, Collins juga memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk tetap berjuang meski menghadapi tantangan besar.
"Saya ingin menunjukkan bahwa hidup tidak hanya tentang bermain basket, tetapi juga tentang menjadi diri sendiri dan memberikan dampak positif bagi orang lain," ujar Collins dalam salah satu wawancaranya.