Kapal AS Melintasi Selat Hormuz dengan Perlindungan Militer
Dua kapal dagang berbendera Amerika Serikat (AS) berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Laut Arab pada Senin (12/8) dengan dukungan Angkatan Laut AS. Hal ini diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui pernyataan resmi.
Proyek Kebebasan dan Keamanan Pelayaran
Menurut CENTCOM, kedua kapal tersebut merupakan yang pertama melintasi selat strategis tersebut sejak AS meluncurkan "Proyek Kebebasan" pada Senin pagi. Proyek ini bertujuan untuk memandu dan menjamin keamanan kapal-kapal komersial yang melintasi wilayah tersebut.
Selain kedua kapal dagang, CENTCOM juga mengumumkan bahwa kapal perusak rudal AS turut melintasi Selat Hormuz dari Laut Arab dan saat ini beroperasi di wilayah Teluk. "Angkatan bersenjata AS secara aktif mendukung upaya pemulihan jalur transit bagi kapal-kapal komersial," demikian pernyataan CENTCOM.
Aturan Operasi Baru dan Zona Pertahanan
Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa kedua kapal dagang tersebut tidak mendapatkan pengawalan langsung. Mereka justru berlayar melalui zona pertahanan yang telah ditetapkan. "Tidak ada tembakan yang dilontarkan Iran terhadap kapal-kapal tersebut," kata pejabat tersebut.
Lebih lanjut, pejabat AS menjelaskan bahwa aturan operasi pasukan AS di wilayah tersebut telah diperbarui. Pasukan AS kini diberi wewenang untuk menyerang ancaman langsung terhadap kapal yang melintasi selat, seperti kapal cepat IRGC atau posisi rudal Iran.
Pernyataan Menteri Keuangan AS dan Reaksi Iran
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara dengan Fox News, menyatakan bahwa AS sedang "membuka kembali" Selat Hormuz. Ia mengklaim bahwa militer AS memiliki "kontrol mutlak" atas jalur air strategis tersebut. "Kami hanya akan menembak jika diserang terlebih dahulu oleh Iran," ujarnya.
Sementara itu, pihak Iran memberikan tanggapan melalui pernyataan resmi Angkatan Bersenjata mereka. Mereka memperingatkan bahwa "tindakan agresif AS hanya akan memperumit situasi saat ini" dan membahayakan keamanan kapal-kapal di Teluk.
Iran juga menyerukan kepada semua kapal dagang dan tanker untuk tidak melintasi selat tanpa koordinasi dengan militer Iran.
Klaim Iran dan Penyangkalan AS
Agensi berita Fars, yang berafiliasi dengan IRGC (Garda Revolusi Islam Iran), mengklaim bahwa dua rudal Iran mengenai kapal perang AS yang mencoba melintasi selat pada Senin. Namun, CENTCOM langsung menyangkal klaim tersebut. IRGC kemudian membantah dengan menyatakan bahwa mereka hanya melakukan "tembakan peringatan" ke arah kapal perang AS.
Implikasi terhadap Keamanan Regional
Peristiwa ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Selat ini menjadi titik krusial dalam persaingan geopolitik antara AS dan Iran, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global yang bergantung pada jalur perdagangan minyak dan barang melalui wilayah tersebut.