Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa kebijakan militer Donald Trump di Iran lebih tidak populer dibandingkan Perang Irak dan Vietnam. Menurut hasil jajak pendapat Washington Post/ABC News/Ipsos yang dirilis Jumat (13/9), sebanyak 61% warga Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer terhadap Iran merupakan sebuah kesalahan.
Hasil ini menempatkan sikap publik terhadap intervensi Trump di Iran sejajar dengan tingkat ketidaksetujuan terhadap Perang Irak pada 2006 dan Perang Vietnam pada 1973. Pada Mei 2006—tiga tahun setelah invasi AS ke Irak—sebanyak 59% warga AS menganggap perang tersebut sebagai kesalahan. Saat itu, lebih dari 2.400 personel militer AS telah tewas, dan pasukan AS tengah terlibat dalam pertempuran paling sengit dalam konflik tersebut.
Namun, Perang Irak masih lebih diterima publik dibandingkan kebijakan Trump di Iran, yang diklaim telah menyebabkan kematian 13 personel militer AS. Sementara itu, pada Januari 1973—saat pasukan AS menarik diri dari Vietnam—sebanyak 60% warga AS menilai pengiriman pasukan ke sana sebagai kesalahan, menurut data Gallup.
Trump kerap membanggakan pencapaiannya dalam menangani konflik di Timur Tengah, bahkan mengklaim bisa mengakhiri Perang Vietnam dengan cepat. Ironisnya, Trump sendiri menghindari wajib militer pada masa itu. Namun, survei terbaru menunjukkan hanya 19% warga AS yang percaya bahwa kampanye militer di Iran telah berhasil. Angka tersebut mencerminkan skeptisisme publik terhadap klaim kemenangan yang terus disuarakan baik oleh Trump maupun pemerintah Iran.