Senat Amerika Serikat secara tipis mengukuhkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve ke-17 pada Rabu (15/5) dengan suara 54 banding 45. Ia akan memulai masa jabatan empat tahun setelah masa kepemimpinan Jerome Powell berakhir pada Jumat (17/5).
Warsh memperoleh dukungan bulat dari Partai Republik, namun hanya satu suara dari Partai Demokrat, yakni Senator John Fetterman dari Pennsylvania. Langkah ini menandai tantangan signifikan dalam membangun dukungan bipartisan di tengah ketegangan politik yang semakin meningkat.
Warsh mengambil alih kepemimpinan bank sentral di tengah kondisi ekonomi yang kompleks. Ia mewarisi pasar keuangan yang sedang bergairah, pertumbuhan ekonomi yang didorong AI, serta warisan inflasi tinggi selama lima tahun terakhir akibat ketegangan geopolitik, termasuk perang di Iran. Meskipun tingkat pengangguran rendah dan pertumbuhan PDB stabil, harga barang yang tinggi dan ketidakmampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok telah mendorong sentimen konsumen ke level yang mengkhawatirkan.
Salah satu isu krusial yang dihadapi Warsh adalah desakan Presiden Donald Trump untuk menurunkan suku bunga. Warsh sebelumnya pernah mengemukakan argumen teoretis yang mendukung pemotongan suku bunga, dengan mengacu pada potensi pertumbuhan ekonomi AS yang mirip dengan era 1990-an. Namun, data inflasi terbaru yang dirilis pada April menunjukkan tekanan harga yang kembali meningkat, sementara pasar tenaga kerja tetap kuat. Kondisi ini melemahkan justifikasi untuk pemotongan suku bunga dalam waktu dekat.
Jika Warsh tetap berupaya menurunkan suku bunga, ia akan menghadapi perlawanan dari rekan-rekan sejawatnya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan tersebut. Ketua Fed sebelumnya, Powell, bahkan memilih untuk tetap bertahan di Dewan Gubernur Fed demi menghindari campur tangan politik, termasuk ancaman pembukaan kembali investigasi kriminal terkait renovasi gedung Fed.
Warsh juga memulai masa jabatannya dengan dukungan bipartisan yang lebih rendah dibandingkan pendahulunya. Para Demokrat meragukan komitmennya terhadap independensi bank sentral, terutama mengingat hubungan eratnya dengan pemerintahan Trump.
Latar belakang Warsh tidak bisa dilepaskan dari sejarah Fed. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Fed dari 2006 hingga 2011, saat menjadi anggota termuda dalam sejarah lembaga tersebut. Ia juga merupakan pendukung utama Ketua Fed saat itu, Ben Bernanke, dalam menangani krisis keuangan 2008. Namun, ia mengundurkan diri pada 2011 karena ketidaksetujuannya terhadap kebijakan stimulus ekonomi melalui quantitative easing pasca-krisis.
Sejak saat itu, Warsh semakin vokal mengkritik Fed. Ia menuduh lembaga tersebut telah melampaui mandatnya dan gagal mencegah lonjakan inflasi pada 2021-2022. Tantangan terbesar Warsh saat ini adalah menentukan seberapa cepat ia dapat melakukan reformasi internal. Meskipun ia memiliki kewenangan terbatas untuk mengganti para gubernur dan presiden bank cadangan regional yang memiliki masa jabatan tetap, Warsh memiliki otoritas luas untuk merekrut staf baru di Dewan Gubernur.
Salah satu pertanyaan besar yang muncul adalah apakah Warsh akan segera mengambil langkah tegas untuk mengubah struktur dan kebijakan Fed. Dengan tekanan inflasi yang belum mereda dan ketidakpastian ekonomi global, keputusan yang diambil Warsh dalam beberapa bulan mendatang akan sangat menentukan arah kebijakan moneter AS di masa depan.