Indeks saham Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor baru pada Kamis (14/11/2024), setelah sejumlah perusahaan, termasuk Cisco Systems, melaporkan laba yang lebih tinggi dari perkiraan analis untuk awal tahun 2026. Dow Jones Industrial Average naik 386 poin atau 0,8%, menembus level 50.000 untuk pertama kalinya sejak perang Iran. Sementara itu, S&P 500 naik 0,9% dari rekor sebelumnya, dan Nasdaq Composite mencatat kenaikan 1% pada pukul 11.45 ET.
Cisco Jadi Pendorong Utama Pasar
Cisco Systems menjadi salah satu penggerak utama pasar setelah sahamnya melonjak 15,5%—kenaikan terbesar dalam hampir 15 tahun. Perusahaan teknologi ini melaporkan laba dan pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi analis. CEO Cisco, Chuck Robbins, menyatakan bahwa perusahaan melihat "permintaan yang sangat kuat dan luas untuk produk-produk kami".
Selain itu, Cisco juga memberikan proyeksi laba untuk kuartal saat ini yang jauh melampaui perkiraan analis. Permintaan besar terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan laba yang dihasilkannya telah menjadi faktor utama dalam pencapaian rekor pasar saham AS sepanjang tahun ini.
AI dan Dampaknya yang Meluas
Permintaan AI tidak hanya terbatas pada sektor teknologi. Menurut Gargi Pal Chaudhuri, Kepala Strategi Investasi dan Portofolio di BlackRock, "Awalnya hanya beberapa perusahaan yang mendorong pasar, namun kini dampaknya telah meluas ke semikonduktor, infrastruktur, hingga bagian ekonomi industri."
Cerebras Systems, perusahaan pengolah AI, baru saja mengumpulkan dana sebesar $5,55 miliar melalui penawaran saham perdana (IPO) dan sahamnya akan mulai diperdagangkan di Nasdaq pada hari yang sama. Hal ini semakin menegaskan dominasi AI dalam pertumbuhan ekonomi saat ini.
Sektor Lain yang Ikut Meroket
Di luar sektor AI, beberapa perusahaan lain juga mencatat kenaikan signifikan setelah melaporkan laba yang lebih baik dari perkiraan, antara lain:
- StubHub Holdings: Naik 18,2%
- Viking Holdings: Naik 7%
- Yeti Holdings: Naik 4,7%
Ketiga perusahaan ini menjual produk yang bukan kebutuhan sehari-hari, seperti tiket konser, wisata sungai, dan botol air berinsulasi. Kinerja mereka yang kuat menunjukkan bahwa konsumen masih bersedia membelanjakan uang meskipun survei menunjukkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi.
Tantangan Konsumen AS
Meskipun demikian, tekanan terhadap konsumen AS terus meningkat akibat harga minyak yang tinggi dan inflasi akibat perang Iran. Laporan yang dirilis pada Kamis menunjukkan bahwa pengeluaran ritel di AS pada bulan lalu lebih rendah dari perkiraan ekonom. Namun, setelah dikurangi penjualan bahan bakar dan otomotif, penurunannya tidak separah yang diperkirakan.
Sementara itu, data pengajuan tunjangan pengangguran di AS meningkat minggu lalu, yang bisa menjadi indikasi adanya PHK lebih lanjut. Meskipun demikian, angka ini masih relatif rendah jika dibandingkan dengan sejarah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga tetap stabil setelah laporan tersebut, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun turun tipis menjadi 4,45% dari 4,46% pada hari sebelumnya.
Kinerja Pasar Global
Di pasar global, indeks saham di berbagai negara juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Meskipun demikian, sentimen positif dari pasar AS tetap menjadi sorotan utama bagi investor internasional.