Survei terbaru yang dirilis Gallup pada Selasa (14/5) mengungkapkan bahwa lebih dari separuh warga Amerika Serikat (AS) mengaku kondisi keuangan mereka semakin memburuk. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir, bahkan melampaui periode resesi akibat pandemi atau krisis keuangan global.
Hasil survei yang dilakukan pada tanggal 1 hingga 15 April 2025 menunjukkan bahwa 55% responden menyatakan kondisi keuangan mereka memburuk. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang sebesar 53% dan tahun 2024 yang hanya 47%.
Ini merupakan tahun kelima berturut-turut di mana lebih banyak warga AS yang menyatakan kondisi keuangan mereka memburuk daripada membaik.
Masalah Keuangan Utama Warga AS
Saat ditanya mengenai masalah keuangan terbesar yang dihadapi, 31% responden menyebutkan tingginya biaya hidup sebagai penyebab utama. Sementara itu, 13% lainnya mengeluhkan mahalnya harga energi, naik 10 poin persentase dibandingkan tahun lalu dan merupakan angka tertinggi sejak 2008.
Tekanan Inflasi dan Harga Bahan Bakar
Meskipun inflasi saat ini lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2022, tingkatnya masih lebih tinggi dibandingkan saat terakhir kali Donald Trump menjabat sebagai presiden. Namun, lonjakan harga bahan bakar akibat perang di Iran telah memberikan tekanan tambahan bagi kantong masyarakat.
Menurut data AAA, harga rata-rata satu galon bensin kini mencapai $4,11, naik signifikan dari di bawah $3 sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2025. Banyak warga yang menyalahkan kebijakan pemerintahan Trump atas kenaikan harga tersebut.
Implikasi Politik Menjelang Pemilu
Kondisi keuangan yang memburuk ini menjadi tantangan besar bagi Presiden Trump dan Partai Republik menjelang pemilu tengah periode. Inflasi yang masih tinggi serta lonjakan harga energi dan bahan bakar menjadi sorotan utama masyarakat.