Pengakuan Murati di Bawah Ancaman Perjuri
Sidang sengit antara Sam Altman, CEO OpenAI, dan Elon Musk, mantan investor perusahaan tersebut, terus bergulir. Kali ini, pengakuan mengejutkan datang dari Mira Murati, mantan Chief Technology Officer (CTO) OpenAI. Dalam video deposisi yang disampaikan Rabu (6/5/2026), Murati mengungkapkan sejumlah hal mencengangkan tentang perilaku Altman selama dirinya menjabat.
Altman Diduga Berbohong tentang Persetujuan Hukum
Menurut laporan, Murati menyatakan bahwa Altman pernah memberitahunya bahwa tim hukum OpenAI telah menyetujui peluncuran model AI baru tanpa melewati dewan keselamatan internal yang bertugas meninjau model sebelum dirilis. Ketika ditanya apakah ia percaya Altman mengatakan yang sebenarnya, Murati menjawab singkat: "Tidak."
Pengakuan ini disampaikan Murati di bawah ancaman perjuri, yang berarti ia bisa dikenakan tuntutan pidana jika terbukti berbohong. Ia juga sempat menjabat sebagai CEO interim OpenAI sebelum akhirnya meninggalkan perusahaan.
Altman Diduga Tidak Jujur dan Memecah-belah Eksekutif
Dalam sidang, Murati juga ditanyai apakah pada musim gugur 2023 ia merasa Altman tidak jujur, tidak transparan, atau tidak konsisten. Ia menjawab, "Tidak selalu."
Lebih lanjut, Murati mengaku bahwa Altman pernah meremehkan perannya sebagai CTO dan bahkan memancing konflik antar eksekutif. Ketika ditanya langsung oleh pengacara, ia menjawab "ya" untuk kedua pertanyaan tersebut.
"Apakah Anda merasa Altman tidak konsisten dalam komunikasi dengan dewan?" — Pengacara
"Tidak selalu." — Mira Murati"Apakah ia meremehkan Anda sebagai CTO?" — Pengacara
"Ya." — Mira Murati
Latar Belakang Kasus Musk vs. Altman
Kasus ini bermula dari tuduhan Elon Musk bahwa OpenAI telah melanggar prinsip nirlaba dengan berubah menjadi perusahaan for-profit pada 2023. Musk, yang juga memiliki perusahaan AI xAI, menuduh OpenAI telah menyimpang dari misi awalnya untuk kepentingan komersial.
Puncak dari ketegangan ini terjadi pada November 2023, yang oleh insider disebut sebagai "Blip" — peristiwa di mana dewan OpenAI secara tiba-tiba memberhentikan Altman dengan alasan ketidakkonsistenan dalam komunikasi. Namun, setelah tekanan dari karyawan dan intervensi investor utama, Microsoft, Altman dikembalikan sebagai CEO hanya dalam hitungan hari. Keputusan ini memicu gelombang pengunduran diri, termasuk Murati yang memilih meninggalkan perusahaan.
Dampak terhadap Industri AI
Pengakuan Murati menambah sorotan terhadap tata kelola OpenAI, terutama terkait protokol keselamatan AI dan transparansi kepemimpinan. Hal ini juga memunculkan pertanyaan tentang integritas Altman dalam mengelola perusahaan yang memiliki dampak besar terhadap perkembangan AI global.
Kasus ini masih berlangsung, dan pengakuan Murati diharapkan menjadi bukti kunci dalam persidangan yang melibatkan dua tokoh paling berpengaruh di industri teknologi saat ini.