Menteri Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, tak mampu memprediksi harga energi dalam jangka pendek maupun menengah. Ia juga tak memiliki rencana jelas untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar yang saat ini membebani masyarakat AS.

"Saya tidak bisa memprediksi harga energi dalam jangka pendek maupun menengah," kata Wright dalam wawancara di acara Meet the Press pada Minggu (15/6). Ketika ditanya soal solusi, ia hanya menyatakan, "Kami terus mencari berbagai ide."

Wright sebelumnya pernah memprediksi bahwa harga bensin bisa turun di bawah US$3 per galon menjelang musim panas. Ia juga mengatakan kepada CNN pada April lalu bahwa harga bahan bakar telah mencapai puncaknya dan akan mulai turun. Namun, data terbaru dari US Energy Information Administration menunjukkan bahwa harga bensin reguler di AS telah naik lebih dari 40 sen per galon sejak pernyataan tersebut.

Kini, Wright mengubah prediksinya. Dalam wawancara Minggu lalu, ia menyatakan bahwa AS berada dalam posisi yang "luar biasa" karena menjadi produsen minyak terbesar di dunia serta produsen gas alam terbesar di dunia.

"Harga bensin dan solar naik, dan akan tetap tinggi selama konflik ini berlangsung," ujar Wright. "Setelah perang berakhir, harganya akan turun lebih rendah dari sebelumnya."

Konflik Timur Tengah Menghambat Penurunan Harga

Pernyataan Wright muncul saat AS dan Iran masih terlibat dalam negosiasi untuk proposal gencatan senjata baru. Laporan Associated Press pada Minggu menyebutkan bahwa Iran ingin mengakhiri perang di semua front, termasuk serangan Israel di Lebanon, serta menjamin keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Iran juga menyatakan siap membahas proposal AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengurangi program nuklirnya, namun tidak dalam waktu dekat.

Dengan kata lain, konflik ini tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika lalu lintas di Selat Hormuz kembali normal, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan aliran minyak dan gas akibat serangan yang merusak infrastruktur di kawasan tersebut.