Serangan Drone Iran yang Menewaskan Enam Prajurit AS
Pada awal Maret, sebuah serangan drone Iran menewaskan enam anggota militer Amerika Serikat di sebuah pangkalan pasukan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, awalnya menyebut insiden tersebut sebagai "kejadian tak disengaja" dengan menyebut drone sebagai "pelintas" yang "secara kebetulan mengenai pusat operasi taktis yang sudah diperkuat."
Klaim Menteri Pertahanan Dibantah Para Korban Selamat
Namun, pernyataan Hegseth kini dibantah oleh beberapa korban selamat serangan tersebut. Dalam wawancara dengan CBS, mereka mengungkapkan kebenaran yang jauh berbeda. Seorang prajurit yang selamat menyatakan, "Menggambarkan serangan ini sebagai insiden tak disengaja adalah kebohongan."
Seorang lainnya menambahkan, "Unit kami tidak siap memberikan pertahanan apa pun. Ini bukan posisi yang diperkuat." Korban selamat lainnya juga menyebut perlindungan bangunan tempat mereka berada "selemah mungkin."
Kontradiksi dalam Pernyataan Resmi
Pernyataan para korban selamat ini bertentangan langsung dengan pernyataan Hegseth di podium Pentagon keesokan harinya. Anggota Komite Layanan Bersenjata DPR AS, Pat Ryan, menegaskan kontradiksi tersebut dalam sidang pada Rabu (29/4/2026).
"Salah satu prajurit kami mengatakan bahwa menggambarkan serangan ini sebagai 'pelintas' adalah kebohongan. Mereka yang selamat dari serangan mengerikan ini justru mengatakan kebenaran. Mereka lebih berani daripada Anda. Mereka menuntut akuntabilitas, dan mereka layak mendapatkannya."
Pertukaran Kata yang Memanas
Hegseth berusaha menghindari pertanyaan langsung dengan menyatakan, "Sebelum konflik dimulai, kami telah menerapkan postur pertahanan maksimal."
Ryan menanggapi, "Itu adalah kontradiksi langsung dengan apa yang mereka katakan."
Hegseth kemudian balik menuding, "Bolehkah saya berbicara, atau Anda hanya akan memonopoli pembicaraan dengan kebohongan?" Ryan menjawab, "Ini bukan kebohongan." Hegseth melanjutkan, "Kami memindahkan 7.500 pasukan dari wilayah—" Ryan memotong, "Saya mengambil kembali waktu saya. Berhenti! Saya mengambil alih waktu ini atas nama para korban selamat. Anda baru saja mengatakan apa yang mereka katakan adalah kebohongan."
Pertanyaan Akuntabilitas yang Tak Terjawab
Ryan kembali menekankan, "Apakah Anda mengatakan para prajurit yang selamat dari serangan mengerikan ini berbohong?" Hegseth mencoba menjawab, "Sebelum konflik dimulai—" Ryan memotong, "Saya mengambil kembali waktu saya. Berhenti! Anda baru saja mengatakan apa yang mereka katakan adalah kebohongan." Hegseth akhirnya menyatakan, "Ada gambaran besar yang sedang terjadi di sini."
Ryan menegaskan, "Anda masih belum menjawab pertanyaan saya." Hegseth membalas, "Jangan bermain-main dengan menaikkan suara dan menuding jari." Ryan menjawab, "Saya tidak bermain-main. Saya ingin mengakhiri dengan satu kutipan lagi dari korban selamat: 'Menyampaikan kebenaran itu penting. Kita tidak akan belajar dari kesalahan ini jika kita pura-pura kesalahan itu tidak terjadi.' Menteri Hegseth, para prajurit inilah yang memegang kebenaran."
Tuntutan Akuntabilitas dan Keterbukaan
Ryan menekankan pentingnya akuntabilitas dan keterbukaan dalam kasus ini. "Para prajurit ini lebih berani daripada Anda. Mereka menuntut akuntabilitas, dan mereka layak mendapatkannya," tegasnya.
Hegseth, yang juga mantan veteran, dituding berbohong mengenai serangan terhadap pasukan AS. Tuduhan ini seharusnya menjadi sorotan besar, serupa dengan upaya Pentagon untuk menutupi korban jiwa terbaru di Timur Tengah. Namun, dengan banyaknya isu lain yang terjadi, kasus ini mudah terabaikan.
Penutup
Pertukaran kata antara Hegseth dan Ryan menyoroti ketidaktransparanan dalam penanganan serangan tersebut. Para korban selamat menuntut kebenaran dan akuntabilitas, sementara Hegseth berusaha menghindari pertanyaan dengan argumen yang tidak jelas. Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan pertahanan AS dan kepercayaan publik terhadap pemimpin militer.