Peretasan Mercor Membuka Kerentanan Rantai Pasok AI

Pasar kerja yang lesu telah melahirkan industri baru yang suram: Mercor, perusahaan AI berbasis di San Francisco, merekrut pekerja terdidik dan kurang terpakai untuk melatih model AI. Para pekerja ini tidak diberi tahu siapa klien sebenarnya dari model AI yang mereka latih. Laporan New York Magazine menyebutkan jam kerja yang panjang, manajer muda dan tidak berpengalaman, serta kontrak yang tiba-tiba berakhir tanpa pemberitahuan.

Klien Besar Tersandung, Data Sensitif Terancam

Setelah peretasan terbaru, Mercor mengungkapkan bahwa sistemnya diretas melalui proyek sumber terbuka LiteLLM. Data yang dicuri mencakup percakapan antara sistem AI Mercor dengan pekerja kontrak, serta materi dari Slack. Hal ini berpotensi membocorkan informasi sensitif milik klien Mercor, termasuk OpenAI dan Anthropic.

Seorang juru bicara Mercor mengatakan, "Kami sedang melakukan investigasi menyeluruh dengan bantuan ahli forensik pihak ketiga. Kami akan terus berkomunikasi dengan pelanggan dan kontraktor serta mengalokasikan sumber daya untuk menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin."

Lima Gugatan Dilayangkan, Kontraktor Menuntut Perlindungan Data

Para kontraktor yang dirugikan telah melayangkan lima gugatan terhadap Mercor, menuduh perusahaan melanggar undang-undang privasi data dan perlindungan konsumen. Mereka khawatir data sensitif seperti nomor jaminan sosial atau alamat telah bocor ke pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ketidakpastian ini menyoroti risiko besar dalam mengandalkan pekerja kontrak yang dibayar rendah dan kelelahan untuk melatih model AI berharga.

Meta Hentikan Kerja Sama, Kekhawatiran atas Keamanan Model AI

Meta secara resmi menghentikan kerja sama dengan Mercor untuk menyelidiki insiden keamanan tersebut. Namun, alasan utama bukanlah kesejahteraan pekerja kontrak, melainkan kekhawatiran akan hilangnya keunggulan kompetitif jika cara melatih model AI bocor ke laboratorium AI lain.

Sejarah Buruk Mercor dengan Pekerja Kontrak

Sebelum peretasan terbaru, Mercor sudah tiga kali digugat dalam tujuh bulan terakhir. Para pekerja kontrak menuduh perusahaan ini mempekerjakan mereka tanpa memberikan kendali atau wawasan atas pekerjaan yang dilakukan.

Pada November lalu, para kontraktor juga mengaku dipecat, lalu ditawari pekerjaan baru dengan bayaran lebih rendah. Kondisi ini semakin memperburuk citra Mercor sebagai perusahaan yang mengeksploitasi tenaga kerja terdidik.

Sumber: Futurism