Istilah TACO (Trump Always Chickens Out) dan kini NACHO (Not a Chance Hormuz Opens) tengah menjadi perbincangan di kalangan investor dan media. Dua akronim ini diciptakan untuk menggambarkan kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai tidak konsisten, sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar saham.
Istilah TACO pertama kali diperkenalkan oleh kolumnis Financial Times, Robert Armstrong, pada Mei 2025. Armstrong menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan strategi investor yang membeli saham setelah Trump mengumumkan tarif, dengan harapan bahwa tarif tersebut akan segera dicabut. Strategi ini didasari oleh pola perilaku Trump yang sering menarik kembali kebijakan yang telah diumumkan.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, istilah NACHO mulai menggantikan TACO. NACHO diciptakan oleh seorang trader dan dipopulerkan oleh kolumnis Bloomberg, Javier Blas, melalui unggahan di platform X. Istilah ini merujuk pada ketidakmungkinan Selat Hormuz dibuka kembali akibat ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran. Trump telah memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali selat tersebut, namun selalu menunda tindakan lebih lanjut.
Ketegangan Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketegangan yang meningkat akibat perang di Iran telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap pasokan minyak global. Meskipun telah ada gencatan senjata, pasar tetap waspada terhadap kemungkinan terburuk.
Trump telah mengancam untuk memblokir pelabuhan Iran selama beberapa bulan, yang semakin memperburuk ketegangan. Hal ini mendorong investor untuk menggunakan istilah NACHO sebagai ekspresi ketidakpastian terhadap kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz.
Reaksi Gedung Putih terhadap Istilah TACO dan NACHO
Gedung Putih tidak menyambut baik kedua istilah tersebut. Dalam konferensi pers tahun lalu, Trump secara tegas menyebut istilah TACO sebagai hal yang "menjengkelkan". Sementara itu, ketika ditanya mengenai istilah NACHO, juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menanggapi dengan sindiran, "Apakah para genius ini juga berpikir Presiden Trump tidak akan pernah mencapai kesepakatan harga obat yang menguntungkan atau menegosiasikan ulang perjanjian dagang yang gagal?".
Penggunaan istilah semacam TACO dan NACHO menunjukkan bagaimana para investor dan media mencoba untuk menyederhanakan dan mengekspresikan ketidakpastian yang diakibatkan oleh kebijakan yang tidak konsisten. Meskipun istilah-istilah ini terdengar ringan, dampaknya terhadap pasar dan persepsi publik cukup signifikan.